Material berupa lumpur, batu, dan pasir kemudian meluncur ke bawah dan menghantam permukiman warga di sekitarnya. Dampak tersebut menyebabkan kerusakan rumah dan menimbulkan korban.
Di sisi lain, Aisyah menyoroti kecenderungan publik yang menyalahkan petani atas bencana tersebut. Ia menyebut, petani kerap dijadikan pihak yang disudutkan ketika terjadi longsor di wilayah pertanian.
“Jangan salahkan petani, longsor Cisarua bukan semata soal alih fungsi lahan. Ini tentang climate justice,” tegasnya.
Menurut Aisyah, petani di Cisarua justru berada dalam posisi rentan. Ia menjelaskan bahwa idealnya seorang petani membutuhkan sekitar dua hektar lahan untuk hidup layak. Namun, kondisi di lapangan jauh dari angka tersebut.
Di Desa Pasirlangu, Cisarua, luas lahan yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah penduduk. Rata-rata kepemilikan lahan hanya sekitar 0,3 hektar, bahkan banyak petani yang tidak memiliki lahan sama sekali.
Selain itu, Aisyah juga menyoroti pengaruh perubahan iklim terhadap meningkatnya risiko bencana. Pemanasan global menyebabkan suhu udara meningkat dan kemampuan atmosfer menampung uap air semakin besar.
Ketika hujan turun, volume air yang dilepaskan menjadi lebih besar dan berlangsung lebih lama. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya longsor dan banjir bandang di berbagai wilayah.
Hingga kini, Aisyah menyebut warga masih berupaya bertahan dan mencari korban yang dinyatakan hilang. Proses pemulihan dan pencarian korban masih terus berlangsung di lokasi terdampak.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!