Kamis, 4 Juni 2026

Longsor Cisarua Bandung Barat Jadi Perbincangan, Warga Sekaligus Pegiat Lingkungan Ungkap Penyebab yang Tak Banyak Dibahas Publik

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 31 Januari 2026 | 18:15 WIB
Ilustrasi tanah longsor. (Pexels/Franklin Peña Gutierrez)
Ilustrasi tanah longsor. (Pexels/Franklin Peña Gutierrez)

SketsaNusantara.id - Peristiwa longsor yang terjadi di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada 24 Januari 2026, masih menjadi perbincangan publik di media sosial. Berbagai dugaan penyebab bermunculan dan memicu perdebatan luas.

Sebagian warganet menyoroti aktivitas alih fungsi lahan di kawasan hulu sebagai faktor utama penyebab bencana tersebut.

Namun, pandangan itu tidak sepenuhnya sejalan dengan keterangan warga setempat yang mengalami langsung kejadian tersebut.

Baca Juga: 23 Anggota TNI Diduga Menjadi Korban Longsor Cisarua Bandung, Hingga Kini Masih Terus Ditelusuri, Keluarga Berharap...

Seorang pegiat lingkungan sekaligus warga Cisarua, Siti Aisyah Novitri, menyampaikan penjelasannya terkait bencana yang melanda kampung halamannya.

Ia membagikan pandangan tersebut melalui akun Instagram pribadinya, @aisyahbertani, pada Sabtu, 31 Januari 2026.

“Kampung halamanku dilanda longsor dan banjir bandang,” kata Aisyah.

Dalam unggahannya, Aisyah menjelaskan bahwa alih fungsi lahan memang kerap dijadikan penyebab utama ketika bencana terjadi.

Baca Juga: Pencarian Hari Kedua, Tim SAR Gabungan Kembali Temukan Jenazah Korban Longsor di Desa Pasirlingu, Cisarua

Namun, menurutnya, penyederhanaan faktor penyebab justru mengaburkan persoalan yang lebih kompleks.

Ia menyebut, alih fungsi lahan bukan satu-satunya faktor dominan dalam peristiwa longsor di Cisarua. Aisyah menilai, aliran air dari kawasan puncak gunung memiliki peran besar dalam kejadian tersebut.

Aisyah menjelaskan bahwa titik awal longsor berasal dari kawasan puncak Gunung Burangrang yang masih tergolong rimbun. Curah hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu utama terjadinya longsoran di wilayah tersebut.

Material longsor kemudian menutup jalur aliran air di bagian atas. Kondisi itu membentuk bendungan alami yang tidak mampu menahan volume air hujan yang terus meningkat.

Air yang bercampur lumpur dan sedimen akhirnya menjebol bendungan alami tersebut. Aliran deras diperparah oleh kemiringan lereng yang mencapai sekitar 20 hingga 25 persen.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X