SketsaNusantara.id - Fakta baru terungkap dalam kasus hilangnya pendaki Yasid Ahmad Firdaus (26) di kawasan Bukit Mongkrang, Gunung Lawu, Jawa Tengah.
Korban yang diketahui merupakan pendaki trail run asal Colomadu, Karanganyar, diduga sempat memiliki rencana membuka jalur pendakian baru sebelum dinyatakan hilang.
Informasi tersebut disampaikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, saat meninjau langsung proses operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di Bukit Mongkrang, Rabu sore, 28 Januari 2026.
Korban yang diketahui merupakan pendaki trail run asal Colomadu, Karanganyar, diduga sempat memiliki rencana membuka jalur pendakian baru sebelum dinyatakan hilang.
Baca Juga: Yasid Ahmad Firdaus, Pendaki 26 Tahun yang Hilang di Bukit Mongkrang, Pencarian Terus Dilakukan Tim SAR Gabungan
Temuan ini menjadi salah satu petunjuk penting dalam upaya penelusuran keberadaan korban yang hingga kini belum ditemukan.
“Rencana membuka jalur baru itu diketahui dari obrolan Yasid dengan salah satu temannya, yang kemudian disampaikan oleh ayah korban,” ungkap Sumarno, sebagaimana dikutip SketsaNusantara.id dari akun X @Jateng_Twit.
Menurut Sumarno, jalur yang dimaksud berada di sekitar Pos 3 Bukit Mongkrang, dengan arah jalur yang berbelok ke sisi kiri dari jalur pendakian umum.
Temuan ini menjadi salah satu petunjuk penting dalam upaya penelusuran keberadaan korban yang hingga kini belum ditemukan.
“Rencana membuka jalur baru itu diketahui dari obrolan Yasid dengan salah satu temannya, yang kemudian disampaikan oleh ayah korban,” ungkap Sumarno, sebagaimana dikutip SketsaNusantara.id dari akun X @Jateng_Twit.
Menurut Sumarno, jalur yang dimaksud berada di sekitar Pos 3 Bukit Mongkrang, dengan arah jalur yang berbelok ke sisi kiri dari jalur pendakian umum.
Baca Juga: Jejak Yasid Ahmad Firdaus Belum Terungkap di Lereng Lawu, Pencarian Pendaki Bukit Mongkrang Harus Diperpanjang Tiga Hari
Dugaan tersebut diperkuat oleh hasil analisis tim SAR gabungan yang mengombinasikan sejumlah metode pencarian.
“Jalur yang dimaksud berada di sekitar Pos 3 Bukit Mongkrang, dengan arah berbelok ke kiri,” jelasnya.
Bukit Mongkrang sendiri dikenal sebagai salah satu jalur favorit pendaki Gunung Lawu.
Dugaan tersebut diperkuat oleh hasil analisis tim SAR gabungan yang mengombinasikan sejumlah metode pencarian.
“Jalur yang dimaksud berada di sekitar Pos 3 Bukit Mongkrang, dengan arah berbelok ke kiri,” jelasnya.
Bukit Mongkrang sendiri dikenal sebagai salah satu jalur favorit pendaki Gunung Lawu.
Baca Juga: Pencarian Hari ke-11 Korban di Bukit Mongkrang Masih Nihil! Tim SAR Menemukan 2 Titik Dicurigai, Ada Bau dan Lalat...
Namun, karakter medannya yang curam, rapat vegetasi, serta minim penanda jalur membuat kawasan ini berisiko tinggi, terutama bagi pendaki yang mencoba keluar dari jalur resmi.
Informasi mengenai dugaan arah pergerakan korban juga dinilai selaras dengan hasil pencarian sebelumnya. Tim SAR menggunakan anjing pelacak (K9) serta melakukan vertical rescue untuk menjangkau area-area ekstrem di sekitar Pos 3.
“Indikasi dari anjing pelacak (K9) dan tim vertical rescue juga mengarah ke sisi kiri Pos 3,” keterangan dari unggahan tersebut.
Meski demikian, hingga hari ke-10 operasi pencarian, korban belum berhasil ditemukan. Kondisi ini membuat tim SAR terus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi pencarian yang telah dijalankan.
Kepala Kantor Basarnas Surakarta, Kamal Riswandi, menyampaikan bahwa pencarian Yasid dilakukan secara maksimal dengan melibatkan berbagai unsur dan metode.
“Pencarian telah dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari K9, penyisiran darat, hingga vertical rescue,”keterangan dari unggahan tersebut.
Sekitar 350 personel dari 50 organisasi dikerahkan dalam operasi SAR ini. Unsur yang terlibat meliputi Basarnas, TNI-Polri, relawan, komunitas pendaki, hingga aparat pemerintah daerah.
Namun, upaya besar tersebut menghadapi tantangan berat akibat kondisi cuaca ekstrem.
Cuaca buruk menjadi faktor utama yang menghambat pencarian. Angin kencang, hujan, serta jarak pandang yang sangat terbatas membuat mobilitas tim SAR di lapangan tidak optimal.
“Cuaca ekstrem menjadi kendala utama, dengan angin kencang dan jarak pandang yang sangat terbatas,” jelas unggahan tersebut.
Kondisi geografis Bukit Mongkrang yang memiliki banyak tebing curam dan jalur sempit juga meningkatkan risiko bagi tim penyelamat.
Oleh karena itu, setiap pergerakan tim harus dilakukan dengan sangat hati-hati demi keselamatan personel.
Saat ini, tim SAR gabungan masih melakukan evaluasi lanjutan terkait kemungkinan perpanjangan operasi pencarian.
Keputusan tersebut akan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kondisi cuaca, keamanan personel, serta peluang ditemukannya korban berdasarkan data terbaru.
Yasid Ahmad Firdaus diketahui sebagai pendaki trail run berpengalaman.
Ia dilaporkan hilang sejak Minggu, 18 Januari 2026, saat melakukan aktivitas pendakian di Bukit Mongkrang. Hingga kini, keberadaannya masih menjadi tanda tanya besar.
Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya mematuhi jalur resmi pendakian, membawa perlengkapan keselamatan yang memadai, serta tidak melakukan eksplorasi jalur baru tanpa perencanaan matang dan izin resmi.***
Namun, karakter medannya yang curam, rapat vegetasi, serta minim penanda jalur membuat kawasan ini berisiko tinggi, terutama bagi pendaki yang mencoba keluar dari jalur resmi.
Informasi mengenai dugaan arah pergerakan korban juga dinilai selaras dengan hasil pencarian sebelumnya. Tim SAR menggunakan anjing pelacak (K9) serta melakukan vertical rescue untuk menjangkau area-area ekstrem di sekitar Pos 3.
“Indikasi dari anjing pelacak (K9) dan tim vertical rescue juga mengarah ke sisi kiri Pos 3,” keterangan dari unggahan tersebut.
Meski demikian, hingga hari ke-10 operasi pencarian, korban belum berhasil ditemukan. Kondisi ini membuat tim SAR terus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi pencarian yang telah dijalankan.
Kepala Kantor Basarnas Surakarta, Kamal Riswandi, menyampaikan bahwa pencarian Yasid dilakukan secara maksimal dengan melibatkan berbagai unsur dan metode.
“Pencarian telah dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari K9, penyisiran darat, hingga vertical rescue,”keterangan dari unggahan tersebut.
Sekitar 350 personel dari 50 organisasi dikerahkan dalam operasi SAR ini. Unsur yang terlibat meliputi Basarnas, TNI-Polri, relawan, komunitas pendaki, hingga aparat pemerintah daerah.
Namun, upaya besar tersebut menghadapi tantangan berat akibat kondisi cuaca ekstrem.
Cuaca buruk menjadi faktor utama yang menghambat pencarian. Angin kencang, hujan, serta jarak pandang yang sangat terbatas membuat mobilitas tim SAR di lapangan tidak optimal.
“Cuaca ekstrem menjadi kendala utama, dengan angin kencang dan jarak pandang yang sangat terbatas,” jelas unggahan tersebut.
Kondisi geografis Bukit Mongkrang yang memiliki banyak tebing curam dan jalur sempit juga meningkatkan risiko bagi tim penyelamat.
Oleh karena itu, setiap pergerakan tim harus dilakukan dengan sangat hati-hati demi keselamatan personel.
Saat ini, tim SAR gabungan masih melakukan evaluasi lanjutan terkait kemungkinan perpanjangan operasi pencarian.
Keputusan tersebut akan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kondisi cuaca, keamanan personel, serta peluang ditemukannya korban berdasarkan data terbaru.
Yasid Ahmad Firdaus diketahui sebagai pendaki trail run berpengalaman.
Ia dilaporkan hilang sejak Minggu, 18 Januari 2026, saat melakukan aktivitas pendakian di Bukit Mongkrang. Hingga kini, keberadaannya masih menjadi tanda tanya besar.
Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya mematuhi jalur resmi pendakian, membawa perlengkapan keselamatan yang memadai, serta tidak melakukan eksplorasi jalur baru tanpa perencanaan matang dan izin resmi.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!