Tingkat kematian dari infeksi Virus Nipah tergolong sangat tinggi yakni 40 -75 persen. Dan sedikit sekali orang yang dapat pulih total jika sudah mengalami gejala hingga kejang.
Tes utama untuk mengetahui infeksi Virus Nipah yang digunakan adalah reaksi berantai polimerase waktu nyata (RT-PCR) dari cairan tubuh dan deteksi antibodi melalui uji imunosorben terkait enzim (ELISA).
Penularan Virus Nipah
Virus Nipah ternyata sudah ada dan diketahui sejak tahun 1999 atau 27 tahun yang lalu, tepatnya yakni di Malaysia. Pada saat itu pertama kali ditemukan karena telah menginfeksi peternakan babi di sana.
Selain di Malaysia, rupanya Virus Nipah juga ditemukan di Bangladesh pada tahun 2001. Yang mana sejak saat itu di negara tersebut setiap tahunnya selalu terinfeksi oleh virus tersebut.
Wilayah lain kemungkinan juga berisiko terinfeksi, karena bukti keberadaan virus telah ditemukan pada reservoir alami yang diketahui seperti spesies kelelawar Pteropus dan beberapa spesies kelelawar lainnya di sejumlah negara, termasuk Kamboja, Ghana, Indonesia, Madagaskar, Filipina, dan Thailand.
Pencegahan
Saat ini, masih belum ada vaksin yang tersedia untuk melawan virus Nipah. Berdasarkan pengalaman yang diperoleh selama wabah Nipah yang terjadi di peternakan babi pada tahun 1999, hal yang bisa dilakukan dengan pembersihan dan disinfeksi rutin secara menyeluruh pada peternakan babi.
Jika ada yang terinfeksi sebaiknya segera dilakukan karantina karena hal itu cara mencegah penyebaran Virus Nipah paling dini.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!