Rico menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat tidak menerapkan seleksi akademik. Syarat utama masuk adalah berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Pemeriksaan kesehatan dilakukan untuk mencegah risiko penularan penyakit di asrama.
Anak yang memiliki penyakit menular tetap diterima dalam program. Namun, pengobatan dan perawatan dilakukan hingga kondisi dinyatakan aman.
Temuan kesehatan ini tidak lepas dari kondisi ekonomi keluarga siswa. Rico menyebut bahwa keluarga miskin ekstrem memiliki keterbatasan serius dalam memenuhi kebutuhan dasar.
Menurut data BPS dan Bappenas, pengeluaran keluarga miskin ekstrem hanya sekitar Rp400 ribu per kapita per bulan. Kondisi tersebut berdampak langsung pada pemenuhan gizi dan kesehatan anak.
Keterbatasan ekonomi membuat kebutuhan dasar sering terabaikan. Mulai dari asupan gizi hingga perawatan kesehatan sederhana. Fakta tersebut terlihat jelas dari hasil pemeriksaan awal Sekolah Rakyat.
Program Sekolah Rakyat pun menjadi sarana untuk memetakan persoalan dasar yang dihadapi anak-anak miskin. Temuan ini menjadi bagian dari upaya penanganan terpadu melalui pendidikan dan pendampingan lanjutan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!