SketsaNusantara.id - Sedikitnya 2.000 peserta mengikuti Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU. Kegiatan digelar oleh Komite Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama memperingati satu abad kelahiran NU versi Masehi.
Rangkaian acara dimulai dari Bangkalan. Ditandai dengan penyerahan replika tongkat dan tasbih oleh dzurriyah Syaikhona Kholil Bangkalan, KH. Fahruddin Aschal kepada dzurriyah KH. As'ad Syamsul Arifin, KHR. Azaim Ibrahimy.
Kedua benda tersebut dibawa ke Tebuireng dan terakhir diserahkan kepada dzurriyah KH. M Hasyim Asy'ari, yaitu KH. Fahmi Amrullah Hadzik (Gus Fahmi).
Bupati Jombang, Warsubi, mengapresiasi acara ini. Hal itu karena antusias peserta yang luar biasa. "Acara napak tilas ini sebagai sarana edukasi untuk muda-mudi tentang Nahdlatul Ulama," ujarnya, Minggu 4 Januari 2026.
KHR. Azaim menyampaikan, perjalanannya dari Bangkalan ke Surabaya sejauh 18 kilometer. Lalu dilanjutkan ke Jombang. "Ada yang menggunakan kereta, bus dan mobil," terang dia.
"Banyak peserta yang berpartisipasi, baik yang terdaftar maupun yang belum terdaftar menjadi peserta napak tilas. Semua tetap berniat untuk mengambil keberkahan dari masyayikh NU," imbuhnya.
Baca Juga: Peringati Harlah, Pagar Nusa Gelar Napak Tilas dan Tekankan Kualitas Diri
Kiai Azaim berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya acara ini. "Barangsiapa yang mengurusi NU, aku anggap santri dan kudoakan khusnul khatimah beserta keluarganya," ujarnya mengutip pesan KH Hasyim Asy'ari.
Sementara, KH. Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pesantren Tebuireng, mengakui perjalanan napak tilas membutuhkan tenaga dan menguras pikiran.
"NU mengambil peran signifikan, mengingat satu abad tahun lalu, apa yang bisa kita ambil dan lakukan dari perjalanan napak tilas yang dipimpin KHR. Ach. Azaim Ibrahimy ini," ujarnya.
Baca Juga: Kenang Perjuangan Tokoh Penyebar Islam, Pengurus NU di Madiun Gelar Napak Tilas dan Studi Tiru
Kiai akrab disapa Gus Kikin ini mengakui, zaman pendirian NU masih sulit. "Zaman itu zaman sulit, saling membantu masyayikh dan ulama untuk memperjuangkan Indonesia," imbuhnya.
Organisasi NU, lanjutnya, berbasis di pondok besar. "Apa yang dilakukan leluhur dulu lebih berat dari yang kita lakukan. Karena pemerintah Belanda tidak ada toleransi pada bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan," tambahnya.