SketsaNusantara.id – Anggota DPR RI dari fraksi PAN, Verrell Bramasta, kembali menjadi pusat perhatian publik.
Setelah sebelumnya menuai sorotan setelah menggunakan rompi taktis saat kunjungi bencana banjir di Sumatera kini ia kembali tuai sorotan terkait pernyataannya.
Verrel beberapa waktu menuai sorotan setelah pernyataannya mengenai pentingnya riset hilirisasi dalam mendukung program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah saat kunjungan ke komisi X BRIN.
Namun, alih-alih mendapat dukungan penuh, ucapan tersebut justru memicu perdebatan dan pertanyaan kritis dari netizen serta pengamat.
Sebelumnya, Verrel dalam sebuah sesi diskusi memberikan pandangannya untuk menekankan bahwa Indonesia tidak boleh hanya mengekspor bahan mentah.
Ia menyoroti bahwa riset dan teknologi adalah kunci agar nilai tambah dari sumber daya alam kita bisa dinikmati sepenuhnya oleh rakyat di dalam negeri.
Pernyataan tersebut memicu gelombang komentar di media sosial, poin utama yang menjadi alasan mengapa publik mempertanyakan adalah ucapan dan pemahaman Verrell mengenali kompleksitas industri hilir dan ekosistem riset di Indonesia.
Apa yang dilontarkan Verrel sebagai anggota DPR RI juga mendapatkan perhatian dari Ray Rangkuti, seorang aktivis dan pengamat politik Indonesia.
"Istilah yang beliau (Verrel) gunakan itu memang membuat kita bertanya-tanya, ini maksudnya apa," ujar Ray Rangkuti dikutip dari kanal YouTube Cumicumi.
"Tapi saya mungkin enggak masuk ke masalah Verrel-nya ya tapi masuk ke persoalan lebih luas dari Verrel itu bagaimana proses rekruitmen politisi yang akan mewakili rakyat kita, itulah persoalan utamanya," ungkap Rey Rangkuti.
Menurut pengamat politik ini, proses rekruitmen anggota DPR merupakan permasalahan utama mengapa DPR RI berisi orang-orang yang dipertanyakan kapasitasnya oleh masyarakatnya sendiri.
"Dari sini kita bisa melihat bahwa hampir tidak ada kriteria sebetulnya persyaratan khusus partai kepada calon anggota legislatif mereka," imbuhnya.