SketsaNusantara.id – Kompleks Parlemen Senayan menjadi saksi sejarah berkumpulnya tokoh-tokoh perempuan dalam acara Musyawarah Ibu Bangsa.
Kali ini Musyawarah Ibu Bangsa mengusung tema "Pulang ke Semangat 1928: Suara Perempuan untuk Indonesia Emas".
Seperti dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV, forum ini digelar untuk merefleksikan kembali peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa, tepat pada peringatan Hari Ibu ke-97.
Baca Juga: Terapkan Strategi Follow the Money di Kasus Korupsi BJB Ridwan Kamil, Aura Kasih Akan Dipanggil KPK?
Acara ini berlangsung di Gedung Nusantara V ini diinisiasi oleh MPR RI bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) serta Kaukus Perempuan Parlemen RI.
Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat menjelaskan bahwa kegiatan Ibu Bangsa 2025 sebagai bentuk penegasan kembali sosok pengendali peradaban yakni perempuan Indonesia.
Tema "Pulang ke Semangat 1928" disebut bukan hanya sekadar nostalgi melainkan upaya memanggil kembali keberanian para perempuan pada Kongres Perempuan pertama di Yogyakarta tahun 1928.
Baca Juga: Bentuk Kader Militan, Ormas Perempuan di Nganjuk Gelar Latihan Kader Dasar
Dimana pada saat itu, perempuan Indonesia telah berdaulat dan berdiskusi tentang kebangsaan, pendidikan, dan hak-hak sipil.
Untuk itu Lestari Moerdijat, menekankan pentingnya konsep "Feminisme Pancasila".
"Persatuan perempuan adalah kekuatan kebangsaan namun ketika perempuan bergerak sendiri maka suaranya akan mudah diabaikan," ungkapnya.
"Ketiak ketika perempuan bersatu, bergerak bersama yakinlah bahwa suara kita akan menjadi bagian penentu dan arah perjalanan bangsa," tegasnya.
Dimana menurutnya perempuan adalah tiang negara yang perannya tidak boleh terpinggirkan dalam merancang masa depan Indonesia.
Dalam musyawarah ini, para tokoh menyoroti bahwa visi Indonesia Emas 2045 mustahil tercapai tanpa keterlibatan penuh perempuan.