news

Akses Putus Akibat Longsor, Warga Pedalaman Tapanuli Tengah Jalan Kaki Berjam-jam demi Sembako

Kamis, 18 Desember 2025 | 21:30 WIB
Ilustrasi banjir. (Pexels/Pok Rie)

SketsaNusantara.id - Sejumlah wilayah di Kabupaten Tapanuli Tengah masih menghadapi keterbatasan akses. Kondisi ini terjadi pascabanjir dan longsor akhir November lalu. Sejumlah jalan utama masih terputus.

Salah satu wilayah yang terdampak adalah Desa Bonan Dolok. Desa tersebut berada di Kecamatan Sitahuis. Hingga pertengahan Desember, wilayah ini masih terisolasi.

Kondisi warga Bonan Dolok menjadi sorotan setelah video beredar di media sosial. Video tersebut memperlihatkan perjuangan warga mengambil bantuan logistik. Warga harus berjalan kaki dalam waktu yang cukup lama.

Baca Juga: Kementerian ESDM Ungkap Sudah Memberi Bantuan Tenda, Genset, dan Starlink ke Tapanuli Selatan: Pemulihan Infrastruktur Hampir Rampung

Dalam video yang diunggah akun TikTok @zaits_bf pada Kamis, 18 Desember 2025, terlihat warga berjalan di jalur licin. Perjalanan dilakukan dalam kondisi cuaca yang belum menentu. Jalur yang dilalui juga melewati area hutan.

Perjuangan tersebut ditempuh dari Sitahuis menuju Kota Sibolga. Warga berjalan kaki untuk mengambil bahan pokok. Perjalanan dilakukan pulang pergi.

“Meskipun hujan, kami tetap semangat menjemput bahan pokok di dapur, kami berjalan. Sekali berjalan, kami perlu 5 jam,” ucap seorang warga dalam video tersebut.

Baca Juga: Bahlil Lahadalia Putuskan Membebaskan Penggunaan Barcode BBM Subsidi di Tapanuli Tengah: Ini Bersifat Sementara

Perjalanan pulang kembali dilakukan dengan jarak yang sama. Total waktu tempuh mencapai 10 jam. Aktivitas ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Jadi, dari Sitahuis ke Sibolga kami pulang pergi butuh 10 jam,” lanjut warga tersebut.

Dalam video yang sama, warga juga menyampaikan harapan. Harapan tersebut ditujukan kepada pihak terkait. Mereka berharap adanya perhatian terhadap kondisi akses jalan.

Berdasarkan keterangan dalam video, warga harus melewati kawasan hutan. Jalur tersebut digunakan karena tidak ada alternatif jalan lain. Akses kendaraan belum dapat digunakan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Tapanuli Tengah mencatat dampak bencana cukup besar. Hingga Rabu, 17 Desember 2025, jumlah korban meninggal mencapai 131 orang. Sebanyak 41 orang lainnya masih dalam pencarian.

BPBD juga mencatat jumlah pengungsi mencapai 10.887 jiwa. Para pengungsi tersebar di 12 kecamatan. Penanganan dilakukan secara bertahap.

Halaman:

Tags

Terkini