Jilid 10: Reformasi dan Konsolidasi Demokrasi (1998–2024)
Jilid terakhir, merkam jejak perjalanan Indonesia sejak masa Reformasi, termasuk perkembangan demokrasi, tantangan era kontemporer, hingga proses penguatan dan pencapaian politik di era demokrasi saat ini.
Meskipun sudah mencakup banyak hal penting, Fadli Zon menyebut buku ini belum menangkap keseluruhan kompleksitas sejarah Indonesia dalam sepuluh jilid saja.
Ia menyatakan bahwa 10 jilid Buku Sejarah Indonesia bukan satu-satunya literasi dan penulisan sejarah merupakan proses dinamis yang terbuka untuk kritik yang terus berkembang seiring waktu.
"Kalau ditulis secara lengkap, mungkin tidak cukup 10 jilid saja, dan bisa mencapai seratus ribu halaman. Buku ini telah melalui proses panjang dan tetap menerima masukan melalui diskusi publik, kita bisa undang juga sejarawan dan akademisi perguruan tinggi sehingga diharapkan ada masukan lain yang sangat terbuka," tutur Fadli Zon.
Beberapa bulan lalu, buku sejarah ini sebelumnya memicu beragam reaksi di ruang publik. Beberapa aktivis, sejarawan dan akademisi dari beberapa perguruan tinggi mengkhawatirkan proses penulisan ulang sejarah bisa berpotensi menimbulkan narasi tunggal yang bermuatan politis.
Penulisan ulang buku sejarah ini juga dinilai bisa mengaburkan fakta kelam masa lalu seperti peristiwa 1965 dan pelanggaran HAM (Mei 1998).
Ketidaktransparanan dalam proses penulisan serta metode penelitian yang digunakan sempat ramai jadi perbincangan publik karena berpotensi menimbulkan manipulasi untuk kepentingan kekuasaan, bukan sebagai refleksi dan pembelajaran bagi masyarakat.
Kritikus dari aktivis, sejarawan dan akademisi mendesak penulisan sejarah yang lebih inklusif, mengakui kesalahan masa lalu, dan tidak mengabaikan suara korban pelanggaran HAM yang dianggap pembelajaran penting agar peristiwa di masa kelam tidak terulang kembali.
Namun, Fadli Zon menegaskan bahwa buku sejarah ini diproyeksikan sebagai salah satu acuan penting dalam memahami perjalanan bangsa dari perspektif Indonesia sendiri, dan bukan bersigat final atau absolut. Ia berharap karya ini dapat membuka diskusi lebih luas dan berkontribusi lebih lanjut dalam kajian sejarah di masa depan.
Harapannya, Buku Sejarah Indonesia ini bisa menjadi salah satu rujukan bagi pelajar serta masyarakat umum yang ingin memahami perjalanan bangsa dari masa ke masa dalam konteks nasional dan global.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini