SketsaNusantara.id - Setelah berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp10,3 miliar hanya dalam waktu 24 jam, kreator konten Ferry Irwandi kembali menjadi sorotan publik.
Aksi kemanusiaannya melalui Kitabisa tersebut diperuntukkan bagi para korban banjir bandang yang melanda berbagai wilayah di Sumatra, termasuk Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat.
Kini, Ferry telah turun langsung ke Kabupaten Langkat untuk memastikan bantuan tersalurkan dengan tepat dan melihat sendiri kondisi pengungsian.
Baca Juga: Transparansi Penyaluran Donasi Rp10,3 Miliar Ferry Irwandi: Tahap demi Tahap Bantuan untuk Sumatra
Dilansir SketsaNusantara.id dari unggahan Instagram terbarunya di akun @irwandiferry, Ferry menuliskan secara langsung mengenai kondisi para pengungsi.
“Di pelosok Langkat kami mengunjungi tempat pengungsian korban bencana yang berisikan 200 orang dengan fasilitas yang sangat tidak memadai dan minim yang dibuat di atas rel kereta api,” tulisnya.
Ungkapan tersebut menggambarkan bagaimana warga yang terdampak banjir bandang masih harus bertahan di tempat yang jauh dari kata layak.
Baca Juga: Bantuan Melalui Jalur Laut! Ferry Irwandi Salurkan Donasi hingga Pelosok Aceh
Dalam unggahannya, Ferry menjelaskan bahwa kebutuhan dasar para pengungsi masih sangat kurang. Ia menggambarkan bagaimana warga menghadapi kesulitan besar dalam hal logistic.
“Jangankan makanan, untuk sekadar tidur pun mereka kesulitan, tenda sangat minim, ketika hujan mereka tidak punya media untuk menampung seluruh keluarga, ditambah mereka tidak memiliki sama sekali perlengkapan,” jelasnya.
Ia juga memaparkan bahwa para pengungsi terdiri dari banyak anak kecil, bayi, hingga hewan peliharaan yang mereka bawa. Kondisi tersebut membuat situasi semakin mendesak dan membutuhkan penanganan cepat.
“Kami menurunkan pax makanan, selimut, pampers, susu botol, susu, selimut dan alas tidur dan memutuskan untuk segera membelikan tenda tambahan untuk mereka sehingga malam ini diharapkan mereka tidak lagi harus ketakutan dan tidur berhimpit-himpitan,” lanjut Ferry.
Penjelasan ini menunjukkan bahwa bantuan tidak hanya berupa sembako atau makanan siap saji, melainkan juga kebutuhan dasar yang sangat penting untuk kenyamanan dan kesehatan pengungsi, terutama anak-anak.