“Dibantu oleh pemulung, tapi kemampuan daya pilah pilihnya tenaga manusia, itu hanya 0,09 persen per hari dari sampah yang masuk,” jelas Hadi lagi.
Sementara itu, alat berat di TPA Pakusari hanya terdiri dari 2 unit eskavator dan 1 wheel loader.
Di musim penghujan seperti ini, wheel loader juga tidak bisa bekerja optimal lantaran tidak dapat mendaki area timbunan.
Saat ini, langkah pencegahan yang dilakukan yakni dengan mengurangi beban TPA melalui pengelolaan sampah yang dilakukan di tingkat desa.
Dengan dukungan dari bumdes setempat, TPS 3R (Tempat Pengeolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) membantu proses pemilahan sebelum akhirnya dibawa ke TPA.
TPA Pakusari sendiri menerima 1.300 ton sampah dari sekitar 2 juta jiwa setiap harinya.
Jika dirata-rata, produksi sampah setiap harinya mencapai 6,5 kilogram per orang.
Selain kondisi sampah yang menggunung dan proses pemilahan yang belum optimal, jalur pengangkutan sampah di TPA Pakusari juga ambles hingga menyulitkan truk sampah.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!