Baca Juga: Prosesi Restu Ibu: Merawat Ingatan Kolektif bersama Sudut Kalisat Melalui Festival Kampung Lorstkal
Gumuk dan Ancaman Tambang
Hilangnya gumuk-gumuk di Jember tak terlepas dari aktivitas tambang, baik legal maupun ilegal. Kandungan batuan di dalam gumuk seakan menjadi berlian yang siap dipoles dan diekspor hingga ke luar negeri.
Namun, kata Firman, para penambang bekerja mengikuti kebutuhan pasar, bukan sekadar 'merusak'.
"Yang salah bukan penambangnya, tapi demand yang datang dari kebutuhan pembangunan. Rumah, jalan, jembatan, 90% materialnya dari pasir dan batu seperti yang ada di gumuk," jelasnya.
Material gumuk didominasi batuan vulkanik dari runtuhan Gunung Raung purba melalui proses debris avalanche. Inilah yang membuat materialnya sangat menarik untuk konstruksi.
Di sisi lain, Firman mengungkap bahwa gumuk bukan hanya membawa batu, tetapi juga air serta mikroorganisme yang membuat ekosistem lokal tetap hidup.
Gumuk memiliki banyak fungsi ekologis yang jarang disadari masyarakat.
Firman menjelaskan bahwa struktur dalam gumuk penuh dengan batu-batu retak seperti spons sehingga mampu menyimpan air.
"Jarang ada gumuk yang kering. Dari satelit pun terlihat selalu hijau," ungkapnya.
Hal itulah yang kemudian menciptakan rantai ekosistem, mulai dari serangga hingga predator.
Dikatakan Firman bahwa hilangnya gumuk bukan kehilangan benda, tetapi juga kehilangan sejarah geologi, air, habitat hewan, hingga stabilitas lingkungan.
"Kita hidup berdampingan dengan serangga, ular, burung elang, macan. Ketika rumahnnya hilang, mereka juga hilang,"