SketsaNusantara.id – Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal (Dit. PNFI), Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, menggelar Bimtek dalam format Training of Trainer (ToT). Kegiatan ini dirancang untuk para narasumber dan fasilitator Pemanfaatan Bantuan Digitalisasi di lingkungan pendidikan nonformal.
Acara yang diselenggarakan di Luminor Hotel Kota, Jakarta Barat, ini berlangsung selama empat hari, dari Senin hingga Kamis, 10-13 November 2025. Kegiatan ini merupakan langkah strategis dan tindak lanjut program besar pemerintah dalam percepatan digitalisasi pembelajaran, menyusul didistribusikannya bantuan Interactive Flat Panel (IFP) kepada Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) di seluruh Indonesia.
Peserta yang diundang terdiri dari 100 perwakilan yang merupakan elemen kunci dalam ekosistem SPNF. Mencakup Kepala Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Pamong Belajar, Tutor, dan Operator Satuan Pendidikan. Mereka dipersiapkan untuk menjadi agen diseminasi pengetahuan di wilayah masing-masing.
Baca Juga: Mahkamah Konsitusi Cabut Kekuasaan Kapolri, Polisi Tak Bisa Lagi Rangkap Jabatan Sipil
Dalam sambutan pembukanya, Direktur Pendidikan Nonformal dan Informal, Baharudin, menekankan urgensi pemanfaatan teknologi yang telah dibagikan agar tidak menjadi sia-sia.
“Sebuah fasilitas yang tidak dimanfaatkan justru akan menjadi kerugian. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kita mengadakan kegiatan Training of Trainer (TOT) yang bertujuan untuk menyiapkan para narasumber dan fasilitator,” ujar Baharudin.
Ia menegaskan keyakinan direktorat terhadap kapasitas peserta yang hadir. “Bapak Ibu sekalian yang diundang di sini adalah calon narasumber dan fasilitator. Kami meyakini bahwa kami telah mengundang orang-orang yang tepat. Sebab, jika yang diundang adalah mereka yang 'alergi' terhadap laptop, nantinya akan sulit untuk menyesuaikan diri," lanjutnya.
Baharudin juga menyinggung kecanggihan perangkat yang dibagikan. "IFP ini merupakan layar sentuh. Sebagai contoh, ketika kita ingin memunculkan pelajaran IPA, pelajaran itu akan muncul. Namun, jika kita tidak memahami cara pengoperasiannya, alat canggih ini akan menjadi barang yang tidak bermanfaat," jelasnya.
Ia berharap kepada peserta ToT menguasai pemanfaatan perangkat digital dan platform rumah pendidikan. "Tentu untuk mendukung pembelajaran di SPNF (Satuan Pendidikan Nonformal)," tutupnya.
Pelaksanaan kegiatan ToT merupakan fase kedua dari implementasi Instruksi Presiden (Inpres) No. 7 Tahun 2025 tentang Percepatan Digitalisasi Pembelajaran. Fase pertama adalah distribusi sarana pembelajaran berupa Interactive Flat Panel (IFP) beserta kelengkapannya kepada SKB dan PKBM yang telah memenuhi kriteria.
Baca Juga: Rahasia Pembuatan Kapal Pinisi, Warisan Bugis yang Kini Berjuang Melawan Langkanya Kayu
Perangkat yang dikirimkan cukup canggih. Selain berukuran 75 inci, setiap unit didukung Random Access Memory (RAM) 16 GB, penyimpanan internal (ROM) 256 GB, dan telah menggunakan sistem operasi Android 13.
Pendukung lainnya, IFP juga dilengkapi konektivitas modern seperti support Wifi 6, LAN, Bluetooth, serta berbagai port (USB Type A, B, C, dan HDMI). Bantuan ini juga disertai kelengkapan berupa standing bracket, dua buah pena stilus, dan kabel yang diperlukan, serta dilindungi garansi 3 tahun.