SketsaNusantara.id - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) klarifikasi ucapannya terkait Bandara Kertajati yang kemudian menjadi sorotan.
Sebelumnya, AHY menyebut Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sebagai infrastruktur yang “in the middle of nowhere” atau bandara yang berada di antah berantah dan sepi.
Setelahnya, AHY mengklarifikasi pernyataan tersebut dan menegaskan bahwa pernyataan tersebut seharusnya dimaknai sebagai kritik konstruktif dan penekanan pada pentingnya integrasi infrastruktur dan pengembangan kawasan di sekitarnya.
"Mungkin dipotong sempit ya tapi sebetulnya semangatnya adalah bagaimana kita bisa menghadirkan integrasi wilayah," ungkap AHY dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube KOMPASTV.
"Jadi pembangunan infrastruktur masuk bandara, dermaga, itu harus dihubungkan dengan konektivitas nya jalan menuju atau keluar dari lokasi tersebut sehingga benar-benar hidup," imbuhnya.
Menurut AHY pernyataannya sebelumnya tersebut menekankan bahwa jangan sampai bangunan megah seperti Bandara Kertajati namun kemudian tidak optimal sehingga butuh terus evaluasi.
Pernyataan "in the middle of nowhere" yang dilontarkan AHY muncul saat ia menyoroti minimnya aktivitas penerbangan di Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, meskipun infrastrukturnya megah dan modern.
AHY menjelaskan bahwa sepinya bandara tersebut bukan karena faktor bangunan, melainkan karena konektivitas dan pengembangan kawasan di sekitarnya yang terlambat.
"Mungkin awalnya dulu kurang terintegrasi. Bandaranya dibangun, tapi konektivitasnya terlambat, sehingga tanggung. Kalau gitu mending di Jakarta sekalian, lalu ditinggalkan, sepi," ujar AHY.
Klarifikasi ini menekankan bahwa masalah utama Kertajati bukanlah lokasi geografisnya semata.
Melainkan ketidakseimbangan antara pembangunan bandara yang masif dengan pengembangan ekosistem ekonomi dan konektivitas transportasi penunjang di area Kawasan Rebana (Cirebon, Patimban, Kertajati).***