“Itu tidak basi. Namanya menu spaghetti, kami mengelolanya menggunakan cuka. Mungkin aroma cuka itu yang dianggap basi,” bantahnya.
Sudiyono menjelaskan, bahwa menu spaghetti dipilih sebagai hidangan kekinian yang diharapkan lebih disukai anak-anak.
Namun ternyata di lapangan menu ini tidak sepenuhnya diterima.
Untuk mengatasi masalah ini, SPPG TPA berencana memberikan edukasi bersama ahli gizi ke sekolah-sekolah.
“Kami juga berharap agar guru ikut memberikan edukasi kepada murid-muridnya,” tandasnya.
Sebagai informasi, SPPG ini menyajikan sekitar 3.600 porsi makanan yang didistribusikan ke 22 lembaga, termasuk menyasar balita dan ibu hamil di kawasan Kecamatan Patrang, Jember.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!