SketsaNusantara.id – Drama politik internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mencapai puncaknya dalam Muktamar X yang digelar di Ancol, Jakarta Utara.
Acara yang sedianya menjadi forum tertinggi untuk memilih pemimpin periode 2025-2030 ini, justru diwarnai oleh kericuhan, adu mulut, hingga lempar kursi.
Sebelumnya faksi yang menyerukan 'lanjutkan' telah menetapkan Muhammad Mardiono sebagai Ketua Umum PPP periode 2025-2030.
Namun di kubu berbeda, faksi yang menyerukan "Perubahan" berhasil mengonsolidasikan suara dan menetapkan Agus Suparmanto sebagai Ketua Umum PPP yang baru secara aklamasi.
Agus Suparmanto terpilih secara aklamasi sempat menjadi calon tunggal di bawah pimpinan sidang Qoyum Abdul Jabbar.
Sementara di kubu berbeda, Muhammad Mardiono juga klaim sebagai ketum baru PPP lewat aklamasi namun tanpa ada forum persidangan resmi.
Baca Juga: Muktamar PPP di Jakarta Ricuh, Kader Terbagi 2 Kubu dan Saling Adu Jotos hingga Lempar Kursi
Terkait perbedaan hasil muktamar untuk ketua umum PPP, Qoyum Abdul Jabbar selaku pimpinan sidang menyatakan alasannya.
"Semua bersuka cita, fakta yang berbicara, buktinya berjalan dengan lancar tapi konflik pasti ada, dinamika pasti ada," ungkap Qoyum Abdul Jabbar dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Metro TV.
"Logikanya kalau aklamasi, sidangnya disini aklamasinya dimana?, artinya sidang hanya ada disini," ungkap Qoyum Abdul Jabbar.
Sebelumnya kericuhan pecah saat proses pemilihan berlangsung, memaksa sidang berjalan dalam situasi yang tidak kondusif.
Namun, di tengah kekacauan tersebut, Agus Suparmanto didorong oleh sejumlah elemen ulama dan pengurus daerah PPP, diklaim berhasil mendapatkan dukungan yang cukup untuk dilakukan aklamasi.