SketsaNusantara.id - Kalisat Tempo Dulu (KTD) kembali digelar untuk ke-10 kalinya.
Tahun ini, acara seni dan riset kebudayaan yang diinisiasi oleh kolektif Sudut Kalisat ini mengusung tema “Lanskap Bercakap”, menyusuri ingatan-ingatan sejarah dan kolonialisme yang tertanam dalam lanskap perkebunan Jember.
Pameran berlangsung pada 8-14 September 2025 di Kampung Lortskal, utara Stasiun Kalisat.
Menggandeng 22 seniman dari berbagai daerah dan latar belakang, KTD 10 menjadi tonggak baru dalam perjalanan Sudut Kalisat, karena untuk pertama kalinya menggelar program residensi seniman di 10 perkebunan yang tersebar di wilayah Jember.
Mereka melakukan riset lapangan langsung dari 22 Agustus hingga 4 September, tinggal bersama warga dan merekam lanskap, cerita, serta ingatan yang melekat di perkebunan-perkebunan tersebut.
"Mereka membaca kembali jejak kolonialisme yang tertanam dalam tanah, rel, dan kebun-kebun yang membentuk wajah Jember hari ini," kata Muhammad Iqbal, Direktur Program Sudut Kalisat.
Lewat riset mendalam, para seniman mengungkap jejak-jejak kolonialisme dan transisi sosial-ekonomi yang terjadi akibat ekspansi perkebunan sejak masa kolonial Belanda.
Bahkan konon, nama 'Jember' diyakini berasal dari kata 'Jembrek', yang artinya rawa atau becek.
Namun sayang, asal nama 'Jembrek' kini nyaris terlupakan karena tertutupi citra Jember sebagai kota tembakau.
"Maka, perkebunan menjadi pengingat sekaligus membuat masyarakat lupa akan akarnya," ucapnya.
Baca Juga: Prosesi Restu Ibu: Merawat Ingatan Kolektif bersama Sudut Kalisat Melalui Festival Kampung Lorstkal
Pun dengan kisah Kalisat yang dulunya bernama 'Sukokerto', sebelum Stasiun Kalisat berdiri dan menjadi simpul distribusi hasil bumi kolonial.