SketsaNusantara.id - Sejarah bukan sebatas arsip dan kisah-kisah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi.
Lebih luas, sejarah juga terekam dalam landskap yang menyimpan ingatan, berbicara dan menentukan cara hidup.
Pemahaman itu yang coba diangkat Sudut Kalisat lewat Kalisat Tempo Dulu ke-10: Landskap Bercakap.
Digelar pada 8-14 September 2025, Sudut Kalisat mencoba menyelami Jember lebih dalam lewat lanskap perkebunan.
Baca Juga: Prosesi Restu Ibu: Merawat Ingatan Kolektif bersama Sudut Kalisat Melalui Festival Kampung Lorstkal
Sudut Kalisat bersama 22 seniman yang mengikuti residensi di 10 perkebunan mencoba merekam jejak kolonialisme yang tertanam di rel-rel dan perkebunan yang membentuk Jember seperti saat ini.
Dari penelusuran landskap perkebunan yang dilakukan, terungkap asal usul nama Jember yang nyaris tak diingat, Jembrek.
Dalam arsip-arsip masa itu, Jembrek memiliki arti rawa atau becek.
Sayangnya, saat ini sudah tidak ada lagi jejak yang mengingat pada asal muasal nama Jember tersebut.
Hilangnya jejak dan ingatan kolektif masyarakat tentang hal tersebut bersamaan dengan tumbuhnya perkebunan tembakau di Jember.
Maka, perkebunan menjadi pengingat sekaligus membuat masyarakat lupa akan akarnya.
Hilangnya ingatan terhadap nama aslinya juga dialami Kalisat yang sebelum dibangunnya stasiun, dikenal dengan nama, Sukokerto.
Setelah pembangunan stasiun, Kalisat menjadi salah satu pusat distribusi hasil-hasil perkebunan kala itu.