SketsaNusantara.id - Banjir besar yang melanda Bali sejak Rabu, 10 September 2025, menjadi sorotan nasional.
Hujan deras yang turun sejak Selasa pagi memicu banjir di berbagai wilayah dan disertai tanah longsor di sejumlah titik.
Dampaknya meluas ke Kabupaten Jembrana, Gianyar, Klungkung, Tabanan, Karangasem, Badung, serta Kota Denpasar.
Hingga Jumat, 12 September 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat sebanyak 17 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Pemerintah provinsi menetapkan status tanggap darurat hingga 17 September 2025 sebagai langkah menghadapi dampak banjir dan longsor.
Perhatian terhadap bencana di Bali ini tidak hanya datang dari pemerintah daerah.
Baca Juga: Tunjukkan Kepedulian, Jennifer dan Irfan Bachdim Turun Langsung Bantu Korban Banjir Bandang Bali
Presiden Prabowo Subianto turun langsung ke lokasi terdampak untuk menemui korban banjir. Kehadirannya menjadi simbol dukungan sekaligus upaya percepatan penanganan di lapangan.
Selain Presiden, Menteri Lingkungan Hidup (LH) sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, juga meninjau daerah terdampak.
Dalam keterangannya di Tabanan, Bali, ia menyoroti faktor lingkungan yang dinilai belum berfungsi dengan baik.
“Konversi lahan-lahan pertanian dan hutan wajib dihindari sebisa-bisanya,” ujar Hanif pada Sabtu, 13 September 2025.
Ia menambahkan perlunya keseimbangan antara pariwisata dan kelestarian alam. Menurutnya, pengembangan wisata tidak boleh mengabaikan aspek lingkungan.
“Perlu langkah-langkah inovasi dalam rangka tetap mengembangkan dunia wisata yang semakin kuat di Bali dan kokoh,” imbuhnya.