SketsaNusantara.id – Aksi unjuk rasa ribuan buruh yang tergabung dalam Koalisi Serikat Pekerja dan Partai Buruh (KSP-PB) di sekitar Gedung DPR RI pada 28 Agustus 2025 menyisakan duka mendalam.
Di tengah riuh tuntutan massa terhadap kebijakan pemerintah, kabar meninggalnya seorang driver ojek online (ojol) akibat bentrokan di kawasan Pejompongan mengguncang publik.
Dalam perkembangan terbaru, pihak kepolisian mengungkap identitas tujuh anggota Brimob Polda Metro Jaya yang diamankan terkait insiden ini.
“Tujuh anggota Brimob Polda Metro Jaya yang diamankan terdiri dari seorang perwira berpangkat Komisaris Polisi (Kompol) berinisial C, seorang Aipda berinisial M, seorang Bripka berinisial R, seorang Briptu berinisial D, serta seorang Bripda berinisial M. Selain itu, dua anggota Brimob berpangkat Bharaka, masing-masing berinisial Y dan D, juga turut diperiksa terkait kasus ini,” tulis keterangan dari Irjen Pol Abdul Karim, yang dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan Instagram @bushcoo.
Pernyataan tersebut sontak memicu gelombang reaksi warganet. Banyak yang menyoroti lambannya proses hukum terhadap aparat, hingga keengganan menyebut identitas secara jelas.
“Yakin di Proses ???” tulis @shelvi924.
Tidak sedikit pula yang menuntut keadilan lebih keras. Akun @dwikyhrlmbng menegaskan, “Nyawa balas nyawa”, disusul @yuan.psr yang menulis, “Nyawa tukar nyawa.”
Tak sedikit pula warganet yang menyatakan kejengahan dengan kondisi hukum di tanah air.
“DI AMANKAN YA GUYS, BUKAN DI TAHAN,” komentar akun @lim.skb.
“Seperti biasa, nama pelaku selalu disensor,” komentar lain datang dari akun @arlinopict, yang menyinggung karena nama-nama pelaku dsensor.
Meninggalnya seorang warga sipil dalam sebuah aksi demokrasi kembali menegaskan betapa pentingnya akuntabilitas aparat negara. Desakan publik agar nama dan identitas pelaku dibuka secara terang-terangan kian nyaring terdengar.