“Mengapa yang mudah selalu jadi sasaran? Jadi gini, sistem pajak kita ini memang dirancang untuk mudah melacak mereka yang tertib,” kata pria berusia 56 tahun ini.
Anies juga menyebutkan, pihak-pihak yang seringkali menjadi sasaran empuk penarik pajak yakni pegawai yang memiliki slip gaji, UMKM, dan pekerja lepas.
“Pegawai dengan slip gaji, UMKM dengan pembukuan yang rapi, pekerja lepas yang rajin melaporkan penghasilan. Mereka ini seperti ikan di permukaan, terlihat jelas, mudah dijangkau,” tukasnya.
Ketika negara membutuhkan anggaran tambahan, maka solusi yang sering dilakukan adalah menaikkan pajak dengan menyasar kelompok-kelompok tersebut.
“Jadi ketika negara butuh tambahan penerimaan, solusinya hampir selalu sama, menambah beban bagi yang sudah patuh atau menaikkan pajak untuk publik luas seperti PPN atau PBB,” lanjutnya.
Ia juga berpendapat bahwa kebijakan menaikkan tarif pajak saat ini adalah prioritas yang tidak tepat.
“Menaikkan PPN atau PBB saat kebocoran masih besar, masih menganga, adalah prioritas yang keliru. Yang rugi siapa? Ya rakyat biasa seperti kita-kita semua,” lanjutnya.
Banyaknya keluhan dari masyarakat terkait besarnya pajak yang harus ditanggung menurut Anies merupakan suatu hal yang wajar.
Maka tidak heran jika kelompok-kelompok tersebut merasa bahwa negara terlalu memeras mereka melalui pajak.
Anies pun mengutip frase yang kerap digunakan netizen saat membahas soal kenaikan pajak.
“Tak perlu heran jika yang patuh justru sering tanya: ‘Sudah tertib tapi kok malah diperas terus?’,” kata Anies.
“Gaji yang dipotong rutin, belanja yang dikenakan PPN, bayar PBB naik. Sementara yang bersembunyi di kedalaman tetap aman-aman saja,” imbuhnya.