SketsaNusantara.id - Pasar buku anak di Indonesia sempat minim pilihan bacaan interaktif seperti soundbook.
Kondisi tersebut berbeda dengan pasar buku di luar negeri yang telah lebih dulu menghadirkannya.
Kekosongan inilah yang menjadi motivasi Fauzia P. Lestari mendirikan Gulalibooks pada 2017lalu.
Ide itu muncul ketika ia tengah mengandung anak pertama dan terinspirasi saat menghadiri pameran buku internasional.
Dengan modal nekat, Fauzia dan suaminya mencetak 1.000 eksemplar buku pertamanya, menggunakan dana yang awalnya akan digunakan untuk biaya persalinan.
“Saya menulis naskah dan mengisi suara sendiri, sementara illustrator, yang awalnya dibayar dengan skema profit sharing, kemudian menjadi co-founder Gulalibooks,” ujarnya.
Baca Juga: Lowongan BFLP BRI 2025 Telah Dibuka! Program Rekrutmen Inklusif dengan Proses Seru dan Transparan
Respon positif dari keluarga dan teman membuat keyakinannya tumbuh bahwa Gulalibooks bisa berkembang lebih jauh.
Seiring waktu, tim yang awalnya hanya dua orang kini berkembang menjadi 12 karyawan.
Kini, Gulalibooks semakin berinovasi, selain soundbook kini terdapat juga augmented reality book, buku perubahan warna, hingga sensory book.
Semua buku-buku tersebut dikembangkan berdasarkan konsultasi psikolog anak, serta tetap mengangkat nilai kearifan lokal.
“Konsep usaha kami adalah menghadirkan buku anak yang edukatif, inovatif, dan menyenangkan, sekaligus menjadi solusi bagi orang tua yang ingin memberikan literasi terbaik sejak dini,” ungkap Fauzia.