news

Sudut Kalisat Hidupkan Sejarah Lewat Festival Kampung Lorstkal: Menyulam Sejarah, Merayakan Peran Ibu

Jumat, 15 Agustus 2025 | 15:00 WIB
Festival Kampung Lorstkal (Instagram @sudutkalisat)

SketsaNusantara.id - Kolektif Sudut Kalisat menggelar Festival Kampung Lorstkal, salah satu rangkaian Kalisat Tempo Dulu 10.

Festival Kampung Lorstkal merupakan program pertama dari Sudut Kalisat di tahun ini.

Acara festival ini dimulai dengan workshop sampah bersama Sarka Space pada, 9 Agustus 2025 kemarin.

Festival Kampung Lorstkal merupakan program pertama Sudut Kalisat yang diharapkan bukan hanya sebagai perayaan sementara, tetapi sebagai momen kolektif yang memperkuat jaringan sosial dan memperdalam pemahaman akan sejarah dan budaya lokal.

Baca Juga: Mampir di Jember! Festival Film Santri Gelar Nobar dan Sosialisasi Bareng Para Santri di Sinema Kelontong Sudut Kalisat

Festival Kampung Lorstkal diselenggarakan bertepatan dengan dua momen penting yaitu peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus dan datangnya bulan Sapar.

“Festival Kampung Lorstkal 2025 hadir sebagai ruang refleksi dan perayaan, sekaligus sebagai bentuk penghormatan terhadap perolehan kolektif masyarakat lokal,” kata RZ Hakim, koordinator Festival Kampung Lorstkal.

Acara puncak Festival Kampung Lorstkal ditandai dengan prosesi 'Restu Ibu' yang akan dilaksanakan pada Sabtu, 16 Agustus 2025 nanti.

Baca Juga: Sudut Kalisat Hidupkan Sejarah Lokal Lewat Merokat Kenangan, Sebuah Upaya Untuk Mengenal dan Mencintai Kampung Halaman

Mengusung tema “Merawat Ingatan Kolektif Bersama Restu Ibu”, festival terselenggaranya ini menggarisbawahi peran penting perempuan, khususnya para Ibu, dalam menjagakesinambungan nilai, membimbing generasi muda, dan menjadi landasan spiritual serta budaya bagi komunitas.

“Festival ini adalah ruang pertemuan lintas generasi untuk berbagi cerita, membangun kolaborasi kreatif, dan memperkuat rasa kebersamaan dalam semangat kemandirian dan kerinduan warisan lokal,” jelasnya.

Tema tersebut dipilih, Kata Hakim, sebagai bentuk penghormatan kepada figur Ibu, baik secara simbolik maupun literal, sebagai penjaga nilai, pelindung kehidupan, dan fondasi identitas sosial budaya.

Baca Juga: Antara Kentongan, Mantra, dan Sayap Merpati: Kisah Budi Prasetyo Menjaga Tradisi Getakan dari Desa Ajung Kalisat

“Restu Ibu menjadi semacam mantra dan narasi pemantik yang mengikat nilai-nilai hidup, keinginan, dan kesadaran sejarah,” tandasnya.

Halaman:

Tags

Terkini