SketsaNusantara.id - Kanit Intel Satgaswil Jatim Densus 88 Anti Teror Kompol Totok Suhartono sedikit menyingkap kenangan lama saat dirinya berkunjung di Kabupaten Jember.
Tepatnya, saat menggelar sosialisasi tentang pencegahan penyebaran narkotika, premanisme, dan radikalisme di Pendopo Wahyawibawagraha pada Rabu, 23 Juli 2025.
Kenangan itu merujuk pada salah seorang anak kecil yang berusia 13 tahun dan sudah tergabung dalam kelompok radikalisme.
"Anak ini asli Jember, tapi tinggal di Buleleng Bali. Saat itu duduk di bangku SMP," ungkapya.
Namun, yang menjadi prihatin, bocah pesisir Jember itu mampu merakit bom dengan andal.
"Bahkan, saat pulang ke Jember, kami menemukan bahwa yang bersangkutan mengibarkan bendera ISIS di salah satu bukit, dekat pesisir Jember," terangnya.
Baca Juga: Tinjau Penutupan Jalan, Komisi C DPRD Jember Pastikan Pengerjaan Jalur Gumitir Berjalan Maksimal
Setelah melakukan penyelidikan, Totok mengungkap bahwa anak itu berasal dari keluarga broken home.
"Ayahnya berlayar dan pulang dua tahun sekali," ucapnya.
Jelas, lanjutnya, anak itu kurang kasih sayang, kurang diperhatikan oleh kedua orang tuanya.
"Tanpa pengawasan, anak ini terpapar paham radikalisme dari media sosial," tegasnya.
Bahkan, di Jawa Timur kasus serupa juga terjadi pada anak di bawah umur. Misalnya, AR, 16 tahun, pelaku bom bunuh diri di Gereja Katholik Santo Yosef Medan; FJR, 14 tahun, rencana menyerang Mako Brimob Kelapa Dua Depok; dan HOK, 19 tahun, rencana menyerang tempat ibadah di Batu pada 2024.