Masalah pokok justru tetap ada jika orang tua, guru, dan lingkungan sekitar tidak melakukan koreksi.
Menurutnya, semua pihak yang berperan dalam kehidupan anak, mulai dari orang tua hingga lingkungan sosial, perlu ikut bertanggung jawab.
“Kalau gurunya nggak ngoreksi, orang tuanya nggak ngoreksi, lingkungan nggak ngoreksi karena munculnya kejadian yang tidak seperti diharap itu kan anak ini produk dari didikan di rumah, sekolah, lingkungan,” terangnya.
Ia juga menegaskan bahwa barak militer memang terbukti efektif untuk membentuk kedisiplinan prajurit.
Namun, pendidikan anak semestinya tetap berada di jalur pendidikan, bukan dijadikan sebagai bentuk hukuman. Menurutnya, pendidikan adalah untuk memperbaiki dan mendidik, bukan untuk menghukum.
Pandangan Anies ini menyoroti bahwa perbaikan perilaku anak memerlukan keterlibatan semua pihak.
Penyelesaian masalah anak seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang mendidik, bukan semata-mata dengan cara yang keras.
Wacana pengiriman anak nakal ke barak militer masih terus menuai perdebatan. Banyak pihak yang menunggu tindak lanjut dari gagasan ini dan bagaimana kebijakan tersebut akan berdampak bagi pendidikan dan perkembangan anak-anak di masa mendatang.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!