SketsaNusantara.id - Warga Yogyakarta dikejutkan dengan kemunculan awan merah bercabang yang terbentuk pada hari Jumat, 11 Juli 2025.
Fenomena alam ini terbilang unik dan terlihat seperti langit terbelah yang seketika jadi perbincangan hangat di media sosial.
Dalam video yang beredar, awan merah tampak membentang lurus dan bercabang dari arah selatan ke utara, terlihat jelas di kawasan Gunungkidul dan sekitarnya.
"Petang ini setelah maghrib, nampak fenomena awan berwarna merah memanjang dari arah selatan ke utara. Adakah yang tadi melihatnya?" tulis akun @merapi_uncover.
"Penampakan awan bercabang mengarah ke selatan, petang ini menjelang malam terlihat dari simpang tiga kemadang tanjungsari gunungkidul. Awan apa ini, lur??" imbuh akun @updatedisini.
Beberapa warga sempat mengabadikan gambar awan tersebut, dan ada yang mengaitkannya dengan fenomena alam atau pertanda akan terjadinya gempa bumi.
Fenomena serupa disebut-sebut pernah terjadi menjelang gempa besar Yogyakarta tahun 2006, dan juga saat gempa pada Agustus 2024 lalu. Tak heran, kemunculan awan merah ini memicu kekhawatiran publik.
Baca Juga: Heboh Fenomena Awan Berlubang di Jember, Benarkah Pertanda Akan Ada Tsunami? Begini Penjelasan BMKG
Terlebih, belum lama ini juga terjadi gempa bumi dengan magnitudo 4,6 SR berpusat di perairan Pacitan, Jawa Timur dan terasa hingga Bantul dan Gunungkidul hingga Kota Yogyakarta.
"Gempa Magnitudo 4.6 SR, terjadi hari Sabtu, 12-Jul-25 10:25:56 WIB, Lok:8.58 LS,110.86 BT (52 km Barat Daya PACITAN-JATIM), kedalaman 38 Km, Dirasakan di Pacitan, Bantul, Kota Yogyakarta, Guunungkidul, Trenggalek. Tidak berpotensi terjadi Tsuami," ungkap akun Instagram @infobmkgyia.
Menanggapi kekhawatiran publik, BMKG menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mengaitkan fenomena awan merah dengan potensi gempa bumi.
"Belum ada bukti empirik yang mengaitkan kemunculan awan merah yang seperti langit terbelah dengan terjadinya gempa," ungkap Daryono, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, dalam pernyataan tertulis dikutip SketsaNusantara.id dari situs resmi BMKG.