SketsaNusantara.id - Peredaran bumi mengelilingi matahari atau sering disebut revolusi bumi adalah hal alamiah dalam tata surya. Namun apa dampak dari revolusi bumi?
Revolusi bumi mengelilingi matahari merupakan hal yang biasa terjadi setiap tahunnya.
Dalam hal ini, bumi akan beredar sebagaimana planet-planet lain di tata Surya. Sehingga, jarak bumi akan semakin jauh dengan matahari.
Melansir dari website resmi BMKG, kondisi bumi yang berada paling jauh dengan matahari disebut juga sebagai aphelion.
Aphelion merupakan momen setahun sekali yang dapat memicu perubahan suhu bumi, sehingga menyebabkan udara menjadi dingin.
Nyatanya revolusi tersebut juga berpengaruh pada perubahan hawa dingin di Indonesia yaitu, wilayah Jawa hingga NTT.
Fenomena astronomi ini sering terjadi pada kisaran bulan Juli dalam rentang waktu cukup lama yaitu, juli hingga september atau bertepatan dengan musim kemarau.
Faktor pemicu suhu dingin lainnya juga berasal dari angin mosoon yang berasal dari Australia. Tekanan udara dingin yang tinggi membuat pergeseran udara dari Benua Australia ke Indonesia Timur-Tenggara.
Pergeseran udara dari benua Australia terjadi akibat periode musim dingin sehingga menyebabkan tekanan udara yang tinggi dari negara Australia.
Sedangkan musim kemarau di Indonesia sendiri ditandai dengan pergerakan angin dari timur ke tenggara dari benua tersebut yang dikenal sebagai Mosoon Dingin Australia.
Adapun faktor lain penyebab udara dingin adalah berkurangnya awan hujan dari Pulau Jawa hingga NTT yang berpengaruh pada suhu dingin malam hari.