Gerakan tariannya yang penuh percaya diri, diiringi lagu "Young Black & Rich" oleh Melly Mike, menarik perhatian dunia, bahkan ditirukan selebriti seperti Luna Maya hingga atlet dunia seperti Travis Kelce dan pemain sepak bola dari PSG serta AC Milan.
Namun, di tengah sorotan global ini, muncul klaim dari netizen Malaysia dan negara-negara ASEAN yang menyebut Pacu Jalur sebagai bagian dari budaya mereka dan menimbulkan miskonsepsi.
Kadispar Riau menduga klaim tersebut muncul karena kedekatan budaya dan geografis dengan negara tetangga seperti Malaysia hingga Filipina yang memang masih dalam rumpun Melayu.
Pemerintah Riau juga berkomitmen untuk terus mengedukasi masyarakat, baik di dalam maupun luar negeri tentang Pacu Jalur.
Pihaknya juga mengusulkan pada pemerintah untuk mengusulkan Pacu Jalur agar bisa masuk ke dalam daftar warisan budaya tak benda UNESCO.
"Kami akan terus mengedukasi masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri, tentang keaslian dan kekayaan budaya Pacu Jalur ini," tutur Roni.
"Kita berharap, Pacu Jalur secepatnya diakui UNESCO, karena tradisi ini tidak hanya sekadar lomba dayung, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang mendalam," ucapnya.
Langkah ini penting untuk menjaga identitas budaya Indonesia di tengah dinamika media sosial yang sering kali memicu kesalahpahaman publik.
Meski sempat bikin geram, klaim dari negara lain juga bisa menjadi bukti bahwa Pacu Jalur begitu menarik perhatian luas hingga diakui negara tetangga.
Viralnya Pacu Jalur membawa dampak positif dan menjadi kebanggaan tersendiri terutama bagi masyarakat Riau. Hal ini sekaligus bisa jadi peluang untuk mempromosikan kekayaan budaya Indonesia di kancah global.
Besar harapan publik agar pemerintah mengusulkan Pacu Jalur agar mendapat pengakuan resmi dari UNESCO sehingga memperkuat posisinya sebagai warisan budaya asli milik Indonesia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini