Padahal penolakan terhadap tambang di Raja Ampat bukan cuma soal idealisme lingkungan. Ada alasan kuat dari sisi ekonomi, sosial, dan jangka panjang yang justru lebih rasional daripada pertambangan.
Ia menyoroti ironi bahwa daerah kaya tambang seperti Papua Barat Daya tetap masuk jajaran termiskin.
“Kalau tambang bikin kaya, kenapa Jakarta yang enggak punya tambang justru makmur?” kritiknya.
2. False Dichotomy
Menurut Ferry, Ulil terjebak dalam dikotomi palsu, seolah-olah publik harus memilih antara pertumbuhan ekonomi atau konservasi lingkungan.
Padahal keduanya bisa berjalan bersamaan. Ekowisata, jasa lingkungan, dan pasar karbon bisa menjadi solusi ekonomi berkelanjutan tanpa merusak alam.
Ia mengingatkan bahwa Raja Ampat punya nilai ekosistem dan reputasi global yang bisa dimonetisasi lebih lama dibandingkan hasil tambang yang akan habis dalam dua dekade.
3. Discounting the Future
Ferry menuding Ulil dan pendukung tambang mengabaikan kerugian jangka panjang demi keuntungan cepat. Kehilangan biodiversitas, rusaknya reputasi Indonesia di forum iklim global, hingga musnahnya potensi ekonomi lintas generasi adalah risiko yang sangat nyata.
“Tambang habis 20 tahun, tapi kerusakan bisa ratusan tahun,” ujarnya.
4. Appeal to Pragmatism:
Argumen “kita harus realistis” yang dilontarkan pihak pro-tambang menurut Ferry hanyalah pembenaran semu. Pasalnya, data dan kalkulasi ekonomi tidak mendukung bahwa tambang di Pulau Gag adalah opsi terbaik.
Ia menyebut bahwa pendekatan pragmatis yang tidak berbasis data justru merupakan ilusi.