SketsaNusantara.id - Menteri Kebudayaan Fadli Zon membuat kontroversi baru dengan pernyataannya tentang sejarah bangsa Indonesia dalam peristiwa tragis di tahun 1998.
Tragedi 1998 sangat membekas dalam ingatan masyarakat karena pada masa tersebut terjadi pembangkangan sipil, demonstrasi besar-besaran, dan perang agama yang digunakan sebagai alat kekuasaan memecah belah bangsa.
Dilansir SketsaNusantara.id, Fadli Zonmenyatakan tanpa ragu menyatakan tidak ada bukti pendukung bahwa pemerkosaan massal itu benar-benar terjadi.
"Kita kan ga pernah tahu ada nggak fakta keras. Kalau itu kan kita bisa berdebat. Nah, ada pemerkosaan massal ga? Betul ga ada pemerkosaan massal. Kata siapa itu? Itu nggak pernah ada proof-nya. Itu adalah cerita. Kalau ada tunjukkan. Ada ga dalam buku sejarah itu. Ga pernah ada. Nah, rumor-rumor seperti itu menurut saya tidak akan menyelesaikan masalah", ucapnya.
Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa dirinya pernah memperdebatkan fakta sejarah itu dengan sejarawan dan diakuinya tidak terdapat bukti yang menguatkan klaim tersebut.
"Saya sendiri pernah membantah itu dan mereka tidak bisa buktikan. Maksud saya adalah sejarah yang kita buat ini adalah sejarah yang bisa mempersatukan bangsa. Dan tonenya harus begitu", katanya menegaskan.
Disisi lain, proyek penulisan buku sejarah oleh Kementerian Kebudayaan memang mendapatkan penolakan tegas dari aliansi sejarawan indonesia, AKSI yang cemas akan hilangnya sejarah yang jujur, bebas, dan interpretatif.
Hal tersebut melansir dari berita SketsaNusantara.id yang terbit pada 24 Mei 2025 dengan judul "Polemik Penulisan Buku Sejarah oleh Kementerian Kebudayaan, Tuai Tanggapan Pedas Aliansi Sejarawan Indonesia".
Sementara itu, Fadli Zon menguatkan dugaan kecemasan aliansi sejarawan semakin nyata terlihat karena tujuannya yang ingin menuliskan kembali sejarah Indonesia dengan nada positif.
Maksudnya adalah penulisan buku sejarah yang akan menjadi acuan memelajari sejarah bangsa harus mempersatukan bangsa. Namun yang membuat runyam adalah ancaman hilangnya kejujuran atas fakta sejarah itu sendiri.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini