Gaya ini dihasilkan oleh perbedaan tekanan udara di atas dan di bawah sayap, yang biasanya disebabkan oleh aliran udara yang lebih cepat di atas sayap dibandingkan di bawahnya, sesuai dengan prinsip Bernoulli.
Namun, dalam kasus Air India Flight AI 171, pesawat tampaknya mengalami kehilangan daya angkat karena berbagai faktor yang masih dalam tahap investigasi.
Pushkal Dwivedi, Pakar Aviasi dari Angkatan Udara India, menyebut beberapa kemungkinan penyebab kecelakaan pesawat Indian Air.
Salah satu kemungkinan penyebab kecelakaan Air India dikarenakan ada kerusakan pada mesin sehingga pesawat mengalami loss of thrust atau kehilangan daya dorong.
"Melihat dari video (cctv jatuhnya Air India Flight AI 171) kemungkinan penyebab kecelakaan adalah kegagalan mesin karena hilangnya daya dorong," ungkapnya dikutip SketsaNusantara.id dari akun X @pushkal_dwivedi.
Kehilangan daya dorong mengakibatkan pesawat berada dalm kondisi stall atau macet sehingga pesawat kehilangan daya angkat secara tiba-tiba.
Hal ini juga bisa terjadi ketika sudut serang (angle of attack) sayap melebihi batas kritis atau saat aliran udara di atas sayap terpisah.
Akibatnya, daya angkat berkurang dan pesawat tidak lagi mampu bertahan di udara hingga akhirnya jatuh tak lama setelah lepas landas.
"Pesawat mungkin tidak mampu menghasilkan daya angkat yang cukup dan kemungkinan besar stall (macet). Kecelakaan ini mungkin disebabkan oleh mesin yang sudah tua, perawatan yang buruk, atau bahkan sabotase," tutur Pushkal Dwivedi.
Video lain yang beredar di X menunjukkan pesawat yang berusaha terbang setelah lepas landas, namun tampaknya tak bisa mencapai ketinggian hingga akhirnya terjatuh.
Pengamat penerbangan juga mengamati adanya suara keras yang terdengar saat Air India saat lepas landas dan diduga berasal dari RAT (Ram Air Turbine) pesawat.
"Air India Boeing 787. Beberapa orang mengira mereka mendengar suara khas RAT (Ram Air Turbine, pompa darurat hidrolik) yang digunakan di awal video kecelakaan, dan saya setuju," tulis akun X @PlaneofLegends.