Sementara total Rp9,9 triliun tersebut merupakan pembelian laptop sekaligus dengan alat TIK lain, tak hanya Chromebook saja.
"Makanya saat kita mengirim itu, ada modem wifi juga proyektor sebagai media para guru mengajar," jelasnya.
Nadiem juga mengatakan bahwa sejak awal pihaknya telah meminta pengawalan ke Kejaksaan.
"Satu hal lagi yang mungkin sangat penting adalah dari awal Kemendikbudristek sudah minta pendampingan dan pengawalan Kejaksaan melalui Jamdatun, pendampingan dari awal," katanya.
Nadiem Makarim merasa tidak melakukan korupsi, bahkan ia juga menyinggung soal kehidupannya yang lahir dari keluarga anti korupsi.
"Mas kenal saya. Ayah saya komite etika di KPK dulunya, ibu saya pendiri Bung Hatta Anti-Corruption Watch. Saya lahir dan dibesarkan di keluarga anti korupsi. Saya tidak pernah dan tidak akan pernah mengambil sepeserpun,"
Ia pun bingung mengapa tiba-tiba muncul skandal dugaan korupsi pengadaan laptop di eranya tersebut.
"Jadi kalau Mas Deddy tanya ini kenapa bisa terjadi, jawaban saya tulus, saya tidak tahu dan belum tahu," tandasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini