“Saya penasaran, kenapa Anda hidup begitu sederhana? Bukankah Anda seorang ustadz besar internasional, tentu tidak sulit mendapatkan penghasilan dari dakwah?”
Zakir Naik pun menjawab dengan tenang namun mantap, “Tidak masalah mendapat gaji dari dakwah, tapi saya memilih untuk tidak mengambil sepeser pun. Dan saya tidak mengizinkan adanya biaya bagi siapa pun yang ingin mendengarkan ceramah saya.”
Jawaban tersebut mencerminkan nilai-nilai idealisme yang dianut erat oleh Zakir Naik. Meski memiliki pengaruh global, ia menolak memanfaatkan dakwah sebagai ladang komersial.
Sebaliknya, kebutuhan hidupnya ditopang oleh usaha bisnis yang ia jalankan hanya dua hari dalam sebulan. Selebihnya, hidupnya diabdikan untuk menyebarkan ilmu, beribadah, dan beristirahat.
Zakir Naik, yang memiliki nama lengkap Zakir Abdul Karim Naik, telah lama dikenal sebagai pakar Ilmu Perbandingan Agama.
Kiprahnya tidak hanya terbatas di India, tempat ia sering mengadakan debat terbuka di Mumbai pada tahun-tahun awal 2000-an, tetapi juga mendunia melalui konferensi-konferensi internasional. Salah satu peristiwa penting dalam perjalanannya adalah Konferensi Damai di Mumbai pada tahun 2008, yang juga dihadiri oleh tokoh politik Malaysia, Anwar Ibrahim.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari S ketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini