news

6 Pesan Anies Baswedan dalam Khotbah Idul Adha 1446 H: Singgung Soal Kesenjangan Sosial hingga Makna Berkurban demi Mewujudkan Masyarakat Berkeadilan

Sabtu, 7 Juni 2025 | 11:00 WIB
Potret Anies Baswedan sampaikan pesan soal kesenjangan sosial hingga makna berkurban demi mewujudkan keadilan sosial dalam khotbah usai Sholat Idul Adha 2025 di Masjid Agung Al Azhar Jakarta (Instagram/aniesbaswedan)

SketsaNusantara.id - Pada Hari Raya Idul Adha 1446 H, Anies Baswedan berkesempatan menjadi khatib sholat Idul Adha yang digelar di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan.

Dalam khutbahnya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyampaikan pesan-pesan mendalam yang tidak hanya menggugah kesadaran spiritual, tetapi juga mengajak jamaah untuk merefleksikan makna berkurban demi mewujudkan keadilan sosial.

Anies juga sempat menyinggung masalah kesenjangan sosial yang kerap ditemukan di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Ikut Sholat Idul Adha 1446 H di Masjid Istiqlal dan Berkurban Sapi Limosin 1,3 Ton untuk Umat

Tak sampai di situ, Anies juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mulai melakukan aksi yang bisa menciptakan perubahan besar menuju kesejahteraan bersama.

Berikut poin-poin penting dan pesan dari khutbah yang disampaikan Anies Baswedan, sebagaimana dirangkum SketsaNusantara.id dari teks lengkap khutbah yang diunggah situs resmi Masjid Agung Al-Azhar.

1. Kesenjangan Sosial di Indonesia Bukan 'Takdir'

Anies menyoroti realitas kesenjangan sosial yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia, terutama di kota-kota besar.

Ia menggambarkan bagaimana ketimpangan ekonomi dan sosial menciptakan jurang antara kelompok masyarakat, yang pada akhirnya melemahkan kohesi sosial.

"Saat kita menyaksikan jutaan manusia berpakaian ihram di Tanah Suci, kita disadarkan pada hakikat kemanusiaan, bahwa semua setara di hadapan Allah," ucap Anies.

Baca Juga: Mau Sholat Idul Adha di Jakarta Bonus Lihat Anies Baswedan? Cek Lokasinya di Sini, cuma 10 Menit dari Blok M!

"Namun, sekembalinya kita ke kota-kota kita di Indonesia kesetaraan itu seolah menguap. Di satu sisi kota, restoran mewah penuh pengunjung. Di sisi lain, anak-anak memungut sampah demi sesuap nasi. Mobil-mobil mewah melintas di jalan yang sama dengan gerobak pedagang kecil," imbuhnya.

"Ini bukan pemandangan di negeri asing. Ini halaman rumah kita sendiri. Kota yang ditata dengan baik akan menghadirkan kebaikan dan keadilan adalah tanda bagi peradaban yang sehat. Sebaliknya, kota-kota yang ditandai dengan ketidakadilan adalah penanda sebuah masyarakat yang sakit," tandasnya.

Anies menekankan bahwa kesenjangan ini bukanlah "takdir", melainkan hasil dari sistem yang dibiarkan tanpa koreksi. Bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga ketidakadilan struktural yang harus diatasi melalui kesadaran kolektif dan aksi nyata.

Halaman:

Tags

Terkini