news

Mengapa Setelah Sampai ke Mekah, Justru Harus Keluar Menuju Arafah? Begini Penjelasan Prof Nadirsyah Hosen

Jumat, 6 Juni 2025 | 06:00 WIB
ilustrasi suasana di Padang Arafah (X/aiishadahir)

SketsaNusantara.id - Ketika seorang muslim menapakkan kaki di Mekah untuk pertama kalinya, rasa haru dan syukur ada di dalam dada.

Setelah perjalanan panjang penuh lelah, kerinduan, dan harapan, akhirnya mereka sampai ke pusat dunia Islam. Yaitu tempat berdirinya Ka’bah, simbol tauhid dan arah shalat umat seluruh dunia.

Namun, yang mengejutkan ketika puncak ibadah haji tiba, mereka justru diperintahkan untuk keluar dari Mekah. Pergi ke luar kota. Menjauh dari Ka’bah. Menuju padang Arafah yang tandus dan terbuka.

Baca Juga: Batal Berangkat Haji karena Visa Furoda Gagal, Ruben Onsu Ungkap Rencana Umrah ke Tanah Suci Bareng Karyawan 

Mengapa demikian? Mengapa bukan Ka’bah yang menjadi puncak ibadah haji?

Dilansir SketsaNusantara.id dari akun Instagram @nadirsyahhosen_official, pertanyaan inilah yang dijawab secara mendalam oleh Prof. Nadirsyah Hosen, seorang cendekiawan muslim asal Indonesia yang kini menjadi profesor hukum Islam di Australia.

Menurut beliau, ibadah haji bukanlah semata-mata ziarah fisik, melainkan sebuah perjalanan batin yang bertahap, dari yang lahiriah menuju yang ruhaniah, dari yang ritual menuju yang spiritual.

Baca Juga: Netizen Heboh Lihat Ivan Gunawan Pakai Kain Ihram Menutupi Kepala, Ramai Ingatkan Larangan saat Haji: Bisa Kena Denda

Arafah: Bukan Sekadar Lokasi, Tapi Simbol Kesadaran

Dalam sabda Nabi Muhammad SAW disebutkan “Al-ḥajju ‘Arafah”. Haji itu adalah Arafah. Ungkapan ini menunjukkan bahwa inti dari ibadah haji terletak bukan di thawaf, bukan pula pada mencium Hajar Aswad, melainkan pada wuquf di Arafah. Berdiri dalam keheningan dan kesadaran di tengah padang luas, pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Kata “Arafah” berasal dari akar kata ‘arafa yang berarti mengenal. Maka padang Arafah bukan hanya tempat, melainkan untuk mengenal diri, mengenal Tuhan, dan mengenal hakikat kehidupan.

Di Arafah, seorang hamba tidak berada dalam keramaian Ka’bah yang penuh ritual, melainkan dalam ruang sunyi yang mengajak kontemplasi. Di situlah jiwa-jiwa bertemu dengan hakikatnya.

Baca Juga: Aiman Ricky Bagikan Cerita Inspiratif tentang Pengalamannya Naik Haji, Hampir Gagal Berangkat Karena Hal Ini 

Prof. Nadir menyampaikan bahwa haji mengajarkan kita untuk tidak terjebak pada simbol dan bentuk luar semata. Maka dari itu, setelah sampai ke Baitullah, manusia disuruh keluar. Seolah Allah ingin berkata: “Engkau telah melihat rumah-Ku. Sekarang, kenalilah Diri-Ku.”

Halaman:

Tags

Terkini