SketsaNusantara.id - Usaha kecil kadang lahir dari keterpaksaan. Itulah yang dialami Daniel Hendra, pemilik Sambal Kawani. Siapa sangka, dari food court yang sepi akibat pandemi Covid-19, Daniel justru menemukan peluang besar yang membawanya menembus pasar ekspor.
Sebelum pandemi, Daniel menjalankan usaha ayam goreng rumahan di sebuah wisma kawasan Kelapa Gading, Jakarta. Saat itu, bisnisnya bisa mencetak omzet harian mencapai Rp3,5 juta. Namun semuanya berubah ketika pandemi melanda. Aktivitas menurun drastis, food court sepi, dan penjualan anjlok.
“Waktu itu, omzet kami bisa mencapai Rp3,5 juta per hari dari penjualan masakan ayam. Namun, saat pandemi mulai meluas, orang-orang bekerja dari rumah dan food court jadi sepi,” kenangnya.
Baca Juga: 70 UMKM Ikuti Program Sertifikasi Halal BRI Peduli, Langkah Strategis untuk Hadapi Persaingan Global
Situasi itu memaksanya berpikir ulang. Perlahan, saat pembatasan mulai longgar dan pelanggan mulai berdatangan kembali, ia menyadari ada satu menu yang tetap dicari orang: sambal racikannya. Di situlah titik balik muncul.
“Turning point-nya pada saat sudah Covid-19 mulai balik, orang mulai makan di luar lagi. Dan saat orang datang untuk makan ayam kita, ternyata mereka suka sambalnya,” ujar Daniel.
Ekspansi ke Taiwan, Hadirkan 18 Varian Rasa
Daniel memutuskan untuk memisahkan sambalnya dari menu ayam goreng. Ia mulai memproduksi sambal dalam kemasan, menyasar segmen yang lebih luas, termasuk mereka yang merindukan masakan rumah khas Indonesia di luar negeri.
“Kami sadar, orang suka sambalnya. Jadi, kenapa tidak dijual terpisah saja? Dari situ, kami mulai produksi sambal dalam kemasan,” tambahnya.
Keputusan itu membuahkan hasil. Sambal Kawani kini rutin mengirim ribuan botol per pesanan ke Taiwan. Sambalnya bahkan telah berkembang menjadi 18 varian rasa, mulai dari sambal ikan roa, cakalang, cumi, oseng iga, hingga chili oil.
“Tahun ini, permintaan dari Taiwan tidak hanya untuk sambal bawang, tetapi juga untuk varian rasa baru,” ungkap Daniel.
Keberhasilan itu mendorongnya untuk melirik pasar lain di Asia seperti Malaysia dan Singapura, di mana permintaan dari diaspora Indonesia cukup tinggi. Saat ini, kata Daniel, pemesanan dari luar negeri sebagian masih berbasis jastip (jasa titip), namun ia optimistis sistem bulk order akan segera menyusul.
Didukung Rumah BUMN BRI, Potensi Terus Tumbuh