"Kirim2 bocah ke barak ini cuma tes ombak saja. Endgame nya nanti adalah program nasional berbentuk wamil," tulis akun X @lilzarkasy
Komentar bernada senada pun ditulis akun @gagitujugakeles, "Dugaan gue jabar itu pilot project buat mewamilkan orang se Indonesia. Dengan demikian, mental kritis bisa diredam dengan doktrinisasi by person, bukan lewat buzzer lagi,".
Akun @SergeantIDAF juga turut menuliskan pikirannya dari sudut pandang berbeda.
"Dengan adanya ini justru lebih bagus karena menanamkan kedisiplinan, kepemimpinan, tenggang rasa terhadap sesama, tidak menjadi individu yang apatis. Setakutkah itu terhadap militer? Seolah militer ini buruk," cuit akun tersebut.
Selaras melihat dampak positif, akun @YusufPurwo2 menulis, "Emang elo udah tahu mereka di barak ngapain aja? Kagak ada salahnya sih pemerintah Jabar berusaha. Kalo gagal dak usah dilanjutin. Emang bener ya kalo cuma bacot doang enak, melakukan aksi yang berat, apalagi tanpa solusi dan contoh,".
Disisi lain, perbedaan paradigma pendidikan yang sering dituturkan oleh Kang Dedi, khususnya terkait pendidikan karakter merupakan pengingat fundamental bagi orangtua dan pendidik.
Rancangan program yang diberlakukan pun berdasar dan mendorong kolaborasi tenaga profesional seperti pendidik, TNI, pemerhati pendidikan, serta psikolog.
Sehingga apabila berhasil mendorong perubahan perilaku positif pada murid, maka bisa ditinjau ulang sebagai acuan pelaksanaan yang lebih inklusif.
Hingga artikel ini ditulis, belum ada berita resmi dari gubernur serta pemerintah jawa barat terkait informasi yang beredar.
Lebih jauh, laporan hasil belajar murid didik pun belum sepenuhnya diinformasikan ke publik sebagai bahan penilaian efektifitas program, selain daripada video blog di kanal youtube Kang Dedi.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!