Darah biru dari sang ibunda serta jabatan ayahnya yang berdarah Arab itu membuat Raden Saleh memiliki privilage berhubungan dengan orang-orang Belanda pada saat itu.
Bakat hingga Karier Melukis
Raden Saleh mulai memperlihatkan bakat melukisnya sejak ia duduk di sekolah rakyat.
Bakat melukisnya itu pun berhasil mencuri perhatian A.A.J Payen, salah seorang pelukis ternama asal Belgia.
Raden Saleh pun diangkat menjadi murid A.A.J Payen hingga kerap diajak berkeliling Jawa hingga belajar ke Eropa.
Dikutip dari laman Kemendikbud, Raden Saleh bertolak ke Belanda pada tahun 1829.
Di Negeri Kincir Angin tersebut, ia belajar melukis potret pada Cornelis Kruseman dan panorama pada Andreas Schelfout.
22 Tahun berpetualang di Eropa, Raden Saleh akhirnya kembali ke Nusantara dan menikah dengan Raden Ayu Danudiredjo yang kemudian kandas di tengah jalan.
Pada tahun 1875, pelukis yang melukis Penangkapan Pangeran Diponegoro ini kembali ke Eropa.
Ia menetap di sejumlah tempat selama 3 tahun berkeliling Eropa, salah satunya di wilayah Coburg, Jerman.
Setelah kembali dari perjalanannya, pelukis Jawa modern pertama ini membangun puri di kawasan Cikini yang kini berubah fungsi menjadi Rumah Sakit Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Cikini.
Karya dan Prestasi