news

Kerugian Cuaca Ekstrem Capai Rp328 Triliun, Industri Asuransi Asia Gagal Lindungi Masyarakat secara Finansial

Senin, 19 Mei 2025 | 12:30 WIB
Ilustrasi. Industri asuransi Asia mengalami disrupsi akibat kerugian ekonomi di 2024. (Pixabay/Oleg Gamulinski)

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba setelah pajak asuransi umum yang pada 2023 masih sebesar Rp7,80 triliun, merosot menjadi kerugian Rp10,14 triliun pada 2024. Penurunan ini setara 197,8 persen.

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan, menyatakan, “Tentunya laba ini terpengaruh dari perhitungan hasil underwriting. Seperti kita ketahui, komponen laba dari perusahaan asuransi berasal dari hasil underwriting dan hasil investasi.”

Hasil underwriting sendiri mengalami penurunan signifikan, dari Rp19,46 triliun di 2023 menjadi defisit Rp1,52 triliun di 2024. Sementara itu, cadangan premi meningkat dari Rp3,44 triliun menjadi Rp22,27 triliun, dan cadangan klaim melonjak dari Rp1,25 triliun menjadi Rp5,08 triliun.

Kenaikan cadangan ini, menurut Budi, turut memperberat tekanan terhadap profitabilitas. “Apa yang terjadi dalam kenaikan cadangan premi maupun kenaikan cadangan klaim akan berkontribusi terhadap laba,” jelasnya.

Tren yang terjadi menunjukkan bahwa industri asuransi kini menghadapi tantangan besar dari dua sisi: meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim, serta rendahnya kapasitas finansial untuk menanggung risiko tersebut. Perlu upaya terintegrasi agar sektor ini tidak kolaps di tengah krisis yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Tags

Terkini