Kamis, 4 Juni 2026

Kerugian Cuaca Ekstrem Capai Rp328 Triliun, Industri Asuransi Asia Gagal Lindungi Masyarakat secara Finansial

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Senin, 19 Mei 2025 | 12:30 WIB
Ilustrasi. Industri asuransi Asia mengalami disrupsi akibat kerugian ekonomi di 2024.  (Pixabay/Oleg Gamulinski)
Ilustrasi. Industri asuransi Asia mengalami disrupsi akibat kerugian ekonomi di 2024. (Pixabay/Oleg Gamulinski)

SketsaNusantara.id - Kerugian ekonomi akibat cuaca ekstrem selama tahun 2024 mencapai angka mencengangkan: lebih dari US$20 miliar atau sekitar Rp328 triliun. Namun, hanya sebagian kecil dari angka itu yang bisa ditanggung oleh asuransi.

Laporan terbaru dari WTW menunjukkan bahwa dari total kerugian tersebut, hanya US$2 hingga US$3 miliar yang berhasil diklaim oleh pemegang polis. Hal ini memperlihatkan adanya kesenjangan perlindungan yang sangat besar di Asia.

Fenomena ini terjadi di tengah makin ganasnya cuaca ekstrem, terutama di kawasan Pasifik. Badai tropis dan topan yang menerjang berbagai negara Asia tak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga merusak infrastruktur dan menghancurkan ekonomi lokal.

Baca Juga: Indonesia Terdampak Turbulensi Industri Asuransi Global: Laba Turun Drastis Jadi Rugi Rp10 Triliun, Bencana Alam Jadi Pemicu Utama

Kondisi ini menggambarkan lemahnya penetrasi dan efektivitas asuransi dalam menghadapi bencana besar. Di banyak negara Asia, kepemilikan asuransi masih rendah, sementara intensitas bencana terus meningkat dari tahun ke tahun.

Data dari Insurance Asia menyebutkan bahwa pada 2024, wilayah Pasifik Utara mencatatkan 23 badai tropis. Dari jumlah tersebut, 15 meningkat menjadi topan, dan 9 di antaranya tergolong berintensitas tinggi. Meski jumlahnya sedikit lebih rendah dari rerata tahunan, dampaknya jauh lebih parah karena kekuatan badai dan lokasi pendaratan yang rawan.

Baca Juga: IFG Ungkap Rendahnya Literasi Asuransi Mahasiswa di 13 Kampus: Paham Investasi, Lupa Perlindungan

Topan Yagi menjadi salah satu contoh paling mencolok. Badai ini menghantam wilayah Asia Tenggara, menewaskan 1.200 orang, dan menyebabkan kerugian hingga US$15 miliar. Ironisnya, hanya sekitar US$1 miliar yang ditanggung oleh asuransi.

Wilayah China Selatan dan Vietnam menjadi sorotan utama dalam laporan tersebut. Topan Yagi yang melaju hingga 160 mph, menjadi salah satu badai terkuat yang pernah menghantam Vietnam dan Hainan. Namun rendahnya tingkat kepemilikan asuransi di wilayah ini membuat mayoritas kerugian tak bisa diklaim.

Jepang yang dikenal sebagai negara maju juga tak luput dari keterbatasan perlindungan. Topan Shanshan turut memporakporandakan sebagian wilayahnya, tapi klaim asuransi tetap rendah, hanya di bawah US$1 miliar karena eksposur asuransi yang terbatas.

Situasi di Filipina bahkan lebih memprihatinkan. Dalam kurun waktu 30 hari, negara ini diterjang enam badai yang memengaruhi lebih dari 13 juta penduduk dan mengakibatkan kerugian senilai US$500 juta. Lagi-lagi, minimnya kepemilikan asuransi menyebabkan mayoritas warga tidak mendapatkan perlindungan finansial.

Kondisi ini memperjelas jurang besar antara risiko bencana dan perlindungan asuransi yang tersedia di Asia. Diperlukan langkah serius dari industri asuransi, pemerintah, dan sektor swasta untuk meningkatkan literasi, memperluas jangkauan asuransi, serta memperkuat ketahanan keuangan dalam menghadapi krisis iklim yang kian mengancam.

Indonesia Juga Terpukul

Dampak krisis global ini terasa hingga ke Indonesia. Industri asuransi umum di tanah air mengalami tekanan berat sepanjang 2024, tercermin dari anjloknya laba perusahaan.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X