news

Indonesia Terdampak Turbulensi Industri Asuransi Global: Laba Turun Drastis Jadi Rugi Rp10 Triliun, Bencana Alam Jadi Pemicu Utama

Minggu, 18 Mei 2025 | 10:46 WIB
Ilustrasi data report terkait fluktuasi pada asuransi umum. (Unsplash.com/@StephenDawson)

SketsaNusantara.id - Tahun 2024 menjadi periode yang berat bagi industri asuransi umum, baik secara global maupun nasional. Tekanan besar datang dari arah yang sulit dikendalikan, bencana alam.

Di Indonesia, dampaknya begitu nyata. Industri asuransi umum yang sebelumnya masih mencetak laba, kini harus mencatat kerugian yang sangat besar.

“Tekanan akibat bencana alam global menyebabkan kondisi perusahaan melakukan perubahan strategi investasi karena tekanan klaim yang besar. Akibatnya ke industri serupa di Tanah Air. Premi menjadi lebih mahal, resiko menjadi lebih meningkat," kata Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan.

Baca Juga: IFG Ungkap Rendahnya Literasi Asuransi Mahasiswa di 13 Kampus: Paham Investasi, Lupa Perlindungan

Kondisi ini menimbulkan efek domino terhadap performa keuangan perusahaan asuransi. Laba tergerus, risiko meningkat, dan strategi bisnis harus disesuaikan secara cepat.

Industri asuransi umum Indonesia memasuki fase krusial setelah mencatat kerugian besar pada 2024. Bencana alam dan tekanan global menjadi pemicu utama yang mengguncang performa sektor ini secara signifikan.

Imbas dari tekanan tersebut juga berdampak pada hasil underwriting yang melemah. Selain itu, perusahaan harus menambah cadangan premi dan klaim yang semakin membebani keuangan.

Baca Juga: Banjir Keluhan Layanan BPJS! Menteri Kesehatan Budi Gunadi Beri 2 Solusi, Dihimbau Bikin Asuransi Swasta?

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pada 2023 industri asuransi umum masih mampu mencatat laba setelah pajak sebesar Rp7,80 triliun. Namun pada 2024, performa ini anjlok drastis dengan mencatatkan kerugian sebesar Rp10,14 triliun, turun hingga 197,8 persen dalam satu tahun.

Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa tekanan terhadap industri bukan sekadar bersifat jangka pendek. Jika tidak diantisipasi, dampaknya bisa lebih besar lagi di masa mendatang.

Secara global, kerugian akibat bencana alam juga tercatat sangat besar. Perusahaan reassuran global, Swiss Re, menyebut bahwa total kerugian yang harus ditanggung industri asuransi dunia mencapai US$137 miliar atau sekitar Rp2.219 triliun sepanjang 2024.

Baca Juga: Siapa Budi Gunadi Sadikin? Profil Sosok Menteri Kesehatan yang Himbau Bikin Asuransi Swasta Usai Ditodong Keluhan BPJS

Swiss Re juga memperkirakan bahwa tren kenaikan kerugian akan terus terjadi, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 5%-7%. Jika prediksi ini akurat, maka pada 2025, kerugian global yang ditanggung perusahaan asuransi bisa mencapai US$145 miliar, angka yang dapat menempatkan 2025 sebagai salah satu tahun dengan kerugian terbesar sepanjang sejarah industri asuransi.

Yang menarik, sebagian besar kerugian ini bukan berasal dari bencana besar berskala global, melainkan dari secondary perils, yakni bencana alam berskala kecil dan menengah, seperti banjir lokal, badai, dan kebakaran hutan.

Halaman:

Tags

Terkini