Meski lelah setelah mengikuti proses menjelang konklaf, Kardinal Suharyo dengan sabar menjawab pertanyaan demi pertanyaan, menyampaikan pesan damai dan kepedulian Gereja Katolik terhadap isu global seperti keadilan sosial dan dialog antaragama.
Sikapnya yang rendah hati dan terbuka kontras dengan sikap tertutup sebagian kardinal lain, yang enggan berkomentar demi menjaga tradisi kerahasiaan konklaf.
"Senyumannya yang hangat dan pernyataan penuh makna tentang perdamaian mengundang pujian. Saya pernah bertemu beliau dan memang sosoknya selalu mengajarkan kasih sayang pada sesama," tulis netizen lainnya.
Dalam video yang diunggah di akun TikTok @spiritusvitae, sempat ada jurnalis yang merasa frustasi karena tak bisa mewawancarai satu kardinal yang hadir karena semuanya tak ingin berkomentar pada hari pertama konklaf.
Namun, Ignatius Suharyo menyambut wartawan dengan senyuman. Meski ia tak menjelaskan secara detail tentang jalannya konklaf, tapi ia bisa memberikan jawaban yang memuaskan.
"Semua kardinal menyebut nama Pope Francis ini mengindikasikan bahwa kami menginginkan pemimpin seperti beliau. Paus Fransiskus yang sederhana, membuat sosoknya jadi teladan yang begitu dirindukan," kata Kardinal Suharyo.
Kardinal Suharyo juga sempat bercanda di tengah wawancara saat ditanya soal kemungkinannya terpilih jadi Paus menggantikan Pope Francis.
"Kemungkinan bukan saya. 0,0 persen tak yakin saya bisa menjadi Paus karena saya tak ada ambisi untuk itu," tuturnya yang membuat para awak media tertawa.
Tak hanya menunjukkan sikap ramah tamah, Kardinal Suharyo juga merepresentasikan toleransi Indonesia di mata dunia.
"Toleransi di Indonesia sangat bagus. Semua komunitas dari berbagai agama bisa hidup berdampingan dan itu membuat Pope Francis senang ketika mengunjungi negara kami," ucapnya dalam salah satu wawancara.
Keramahan Suharyo tidak hanya mencerminkan pribadinya, tetapi juga nilai-nilai Indonesia yang dikenal dengan budaya ramah tamah dan menjaga toleransi antar umat beragama.
Dalam tulisan di situs Vatican News, Ignatius Suharyo juga dikenal sebagai kardinal yang terbuka dengan dialog antaragama, sebuah nilai yang ia bawa ke Vatikan, terinspirasi dari keberagaman Indonesia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini