Istri tersebut kemudian diduga menjadi aktor utama dari praktik menyimpang yang mencoreng nama jemaah.
Satriyo menyebut bahwa ada hal baik dalam masa awal jemaah ini, seperti aksi kemanusiaan saat bencana tsunami yang terjadi beberapa tahun lalu.
Namun semuanya mulai berubah seiring bertambahnya kekuasaan dan manipulasi dari dalam. Satriyo juga menyoroti bagaimana anggota jemaah didoktrin untuk patuh total tanpa bertanya, sesuatu yang menurutnya menjadi akar dari banyak penyimpangan.
"Kami dulu punya perkampungan sendiri, sistem hidup sendiri. Tapi semua rusak karena penyimpangan kekuasaan di internal," tutup Satriyo.
Baca Juga: Sukses Bikin Penonton Indonesia Geram, Sosok Walid di Film Bidaah Ternyata Bukan Aktor Kaleng-Kaleng
Serial Bid’ah yang sempat viral karena keberaniannya mengangkat tema penyimpangan dalam jubah agama.
Dengan latar belakang komunitas keagamaan yang berkembang menjadi kekuasaan tertutup, kisah ini menjadi peringatan bahwa kesalehan yang ditampilkan di permukaan tidak selalu mencerminkan kebenaran di dalamnya.
Penuturan Satriyo menjadi catatan penting agar masyarakat lebih kritis terhadap segala bentuk kultus yang membungkus penyimpangan dengan simbol agama.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini