SketsaNusantara.id - Tak ada lagi sapaan hangat di tengah dinginnya kabut Gunung Lawu. Tak ada lagi suara Mbok Yem menawarkan teh hangat di warung puncak yang legendaris itu.
Kini, sosok yang begitu dicintai para pendaki telah berpulang.
Mbok Yem, atau yang bernama asli Wakiyem, adalah figur yang tak terpisahkan dari puncak Lawu, tepatnya di Hargo Dumilah.
Ia bukan hanya pemilik warung sederhana, tetapi juga penjaga jiwa gunung—tempatnya yang dingin, sunyi, dan kadang menakutkan, menjadi sedikit lebih hangat berkat kehadiran beliau.
Namun kini, perjalanan panjang Mbok Yem di dunia pendakian telah benar-benar usai.
Memasuki usia senja dan menghadapi kondisi kesehatan yang kian menurun, ia memutuskan untuk pensiun. Tepat sebelum Hari Raya Idul Fitri 2025, beliau turun gunung dan menetap di rumahnya di Dusun Dagung, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan.
“Setelah dirawat, kondisi Mbok Yem sempat menunjukkan perbaikan. Namun, beberapa hari setelah Lebaran, kesehatannya kembali melemah,” tutur Syaiful Bahri, cucunya, di rumah duka pada Rabu malam, 23 April 2025.
Keputusan Mbok Yem untuk tidak kembali ke puncak bukanlah karena terpaksa. Ia sendiri menyadari waktunya untuk beristirahat telah tiba.
"Beliau sudah bilang ingin istirahat, tidak ingin naik gunung lagi. Maunya tinggal di rumah bareng keluarga," kata Syaiful lagi.
Sebelum mengembuskan napas terakhir pada siang hari itu, sekitar pukul 14.00 WIB, almarhumah sempat tampak membaik. Ia masih bisa berkomunikasi dan makan seperti biasa. Namun, kondisi itu tak bertahan lama. Seiring waktu, kesehatannya kembali menurun drastis.
Kepergian Mbok Yem membawa duka yang dalam, bukan hanya bagi keluarganya, tapi juga bagi ribuan pendaki yang pernah singgah dan merasakan hangatnya teh serta sambal racikannya di ketinggian.