"Banyak animator lokal juga sebel, soalnya orang-orang ini promosi AI tapi kurang menghargai kreativitas manusia yang bikin Jumbo hidup. Jadi, wajar kalau kesel liat doi yang cuma baca skrip doang, apalagi nonton gratis sekeluarga," tandasnya.
"Mengagung-agukan animasi Indo tapi industri (animasi lokal) gak di support, lawak emang. Tuh Grok aja sampe sebel, padahal dia AI lho, beneran puas," komentar akun @Masalfin2343.
Menariknya, video yang diunggah Gibran di YouTube mendapat jumlah likes lebih sedikit daripada dislikes. Terpantau video "Bonus Demografi" Gibran mendapat tidak disukai lebih dari 28 ribu, dan hanya mendapat dukungan dengan mengantongi 2,5 ribu likes pengguna YouTube.
Meski mendapat kritik, sebagian pihak mengapresiasi Gibran karena menaruh perhatian lebih pada film Indonesia termasuk Jumbo.
Namun, kontroversi ini menunjukkan bahwa publik menginginkan dukungan nyata, bukan sekadar ucapan, untuk industri animasi Indonesia.
Gibran mungkin bermaksud baik, tapi sorotan netizen menggarisbawahi pentingnya konsistensi dan aksi konkret dari pemimpin, bukan hanya riding the wave, "mengikuti gelombang" kesuksesan.
Jumbo tetap jadi kebanggaan, tapi Gibran perlu membuktikan komitmennya dengan langkah nyata, alih-alih hanya memuji tanpa tindakan untuk mendukung animator lokal.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini