SketsaNusantara.id - Fenomena habib, khususnya yang berasal dari Hadramaut, Yaman, telah menjadi bagian penting dalam lanskap keislaman di Indonesia.
Dengan latar belakang nasab yang dianggap mulia, mereka memperoleh tempat istimewa di hati umat Islam Indonesia, terutama di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah yang menghormati tradisi dan tarekat sufi.
Seiring waktu, keberadaan habib berkembang menjadi fenomena sosial yang lebih luas.
Baca Juga: Bukan oleh Orang Arab, Kyai Said Aqil Siroj Ungkap Faktor Penyebab Peradaban Islam Berkembang Pesat
Mereka tidak hanya dihormati sebagai keturunan Nabi, tetapi juga sering kali mendapatkan perlakuan khusus karena dianggap memiliki keberkahan.
Banyak masyarakat yang meyakini bahwa doa dan nasihat dari habib lebih mustajab dibandingkan ulama non-habib, sehingga posisi mereka dalam berbagai majelis pengajian dan tarekat sufi sering kali lebih diutamakan.
Tradisi haul, di mana ribuan jamaah berkumpul untuk mengenang habib yang telah wafat, semakin memperkuat pengaruh mereka dalam kehidupan sosial dan keagamaan umat Islam di Indonesia.
Fenomena pengkultusan habib pun menjadi semakin menonjol. Sebagian masyarakat tidak lagi sekadar menghormati mereka sebagai tokoh agama, tetapi mulai memperlakukan mereka sebagai figur yang nyaris tak tersentuh kritik.
Kyai Said Aqil Siroj menanggapi fenomena tersebut saat menjawab pertanyaan di podcast Akbar Faizal.
Mulanya, Akbar menanyakan tentang adanya sekelompok masyarakat yang tampak memobilisasi persepsi, sehingga seakan-akan bahwa kalau berbeda dari mereka itu bukan Islam.
Akbar pun mengerucut pada orang-orang dari Yaman.
"Yang saya maksud itu adalah orang dari Yaman-Yaman itu. Kita butuh penjelasan seperti apa itu," ujar Akbar.