SketsaNusantara.id – Saat jam istirahat sekolah, puluhan santri di komplek Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang tampak antri di sebuah warung. Mereka menyempatkan jam istirahat, pukul 13 - 14 untuk makan siang di warung terdekat dari sekolahnya.
Dari deretan warung sekitar sekolah, yang menjadi sasaran para santri putri adalah warung "Sego Sambel Mbak Desi". Sejak didirikan tahun 2017 hingga sekarang, pelayanan yang diterapkan adalah dengan cara prasmananan. Selain itu, para pembeli terkesan nyaman kepada penjaga warung.
Desi Susanti (35), pemilik warung tersebut mengaku memulai usaha kulinernya atas dukungan permodalan dari BRI. “Saat itu saya mendapat pinjaman BRI sebesar Rp 10 juta,” kata Desi mengawali ceritanya, Selasa 25 Maret 2025.
Uang sebesar itu, kata Desi, dibuat belanja untuk keperluan memasak, berikut semua perlengkapan yang dibutuhkan. Mengenai tempat, ia membangun warung sederhana di depan rumahnya, Dusun Pesantren, Desa/Kecamatan Peterongan, Jombang.
Saat mengawali usaha kuliner di tahun 2017, Desi mengaku mendapat omset rata-rata Rp 300 ribu hingga 800 ribu perhari. Penghasilan tersebut merupakan pendapatan kotor yang ia dapat. Saat itu ia merekrut satu karyawan.
Baca Juga: Berkah Ramadhan, Omset Pengusaha Kosmetik Binaan BRI di Malang Meningkat Pesat hingga 40 Persen
“Dengan pendapatan itu saya harus memberi upah kepada karyawan yang saya bayar setiap hari. Waktu itu saya mempekerjakan satu karyawan. Dengan penghasilan awal sebesar itu masih sangat minim. Bahkan untuk belanja bahan masakan untuk esok hari terkadang kurang,” ungkap Desi.
Meski demikian ia tak patah arang. Ia optimis, berjualan makanan di lingkungan pondok pesantren pasti laku. Dari yang diamati, setiap warung yang ada di sekitarnya kebanyakan ramai pembeli dari kalangan santri.
Alhasil, di tahun kedua, usaha kuliner yang ia tekuni mengalami perkembangan. Omset per hari ada kenaikan. Dari yang semula maksimal Rp 800 ribu, bisa tembus di angka Rp 1 juta.
Baca Juga: Kisah Sukses Bisnis Meroket Klaster Petani Salak Kabupaten Karo berkat Pemberdayaan BRI
Melihat ada perkembangan usaha, Desi merasa butuh tambahan modal agar usaha kulinernya dapat berkembang. “Saya mencoba menambah menu dan menambah porsi masakan. Sebab, semakin hari pembeli semakin bertambah. Santri di sini mulai mengenal warung saya. Dari situ saya mengajukan pinjaman ke BRI lagi,” terangnya.
Untuk mengembangkan usaha kulinernya, pijaman yang diterima BRI sebesar Rp 25 juta. Modal usaha itu digunakan untuk membeli bahan masakan. Karena pembeli mulai ramai, ia merasa kewalahan dalam melayani para santri yang membeli makanan di warungnya. Ia pun menambah karyawan satu lagi.
Di tahun berikutnya, sekitar akhir 2019, ia berniat membesarkan usaha kulinernya. Kali ini ingin memiliki tempat yang lebih layak dari tempat sebelumnya. Sebab, Ketika jam istirahat tiba, saat para santri ke warung, tempatnya terasa sesak. Saat itu Desi kembali mengajukan pinjaman ke BRI lagi. Kali ini bukan untuk menambah menu masakan, namun untuk membangun warung baru.
“Saya mengajukan pinjaman sebesar Rp 50 juta ke BRI. Uang tersebut saya fokuskan membangun warung dengan luas 3 x 12 meter,” ungkapnya.