SketsaNusantara.id - Belum lama ini, publik dihebohkan dengan kabar kantor redaksi Tempo yang mendapatkan kiriman potongan kepala babi pada Rabu (19/3).
Potongan kepala babi tersebut dikirim dari orang tidak dikenal yang ditujukan kepada Fransisca Christy Rosana atau Cica, jurnalis Tempo desk politik sekaligus host siniar Bocor Alus Politik.
Teror tak berhenti, pada Sabtu (22/3), kantor redaksi Tempo kembali mendapatkan kiriman 6 bangkai tikus dengan kepala yang terpenggal.
Berbeda, paket bangkai tikus yang ditemukan petugas kebersihan Tempo, tidak ditemukan tulisan apapun di dalam kardus yang dibalut kertas kado tersebut.
Rentetan kiriman paket bangkai hewan ini pun dinilai merupakan teror dan ancaman bagi kebebasan pers era sekarang.
Tak sedikit pihak bersuara dan menyoroti aksi teror yang didapat Tempo. Salah satunya datang dari putri ketiga mendiang presiden ke-3 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yakni Anita Wahid.
Baca Juga: Kantor Tempo Diteror Kepala Babi dan Bangkai Tikus, Begini Respon Kapolri Jenderal Listyo Sigit
Lewat unggahan di akun Instagram pribadinya @anitawahid, rentetan teror yang diterima Tempo mengingatkannya saat era Orde Baru (Orba).
Saat itu, Anita yang masih duduk di bangku SMP mengatakan bahwa keluarganya pernah mengalami ancaman atau teror serupa.
Namun, teror yang didapat bukan dalam bentuk kiriman potongan bangkai hewan, melainkan telepon misterius dari orang tidak dikenal.
“Hampir setiap sore, sekitar jam 4, setengah 5 sore itu ada telepon masuk ke rumah, dan biasanya gue yang ngangkat, karena gue yang ada di rumah, kadang-kadang adik gue Inayah yang waktu itu bahkan masih SD, kadang-kadang dia juga yang ngangkat, tapi paling sering gue,” kata Anita Wahid, dikutip SketsaNusantara.id pada Senin, (25/3).
Dimana setiap kali Anita mengatakan kata sapaan ‘halo’, di ujung telepon akan terdengar suara laki-laki yang menggelegar, marah-marah, mengintimidasi dan membentak.