Perbedaan harga yang signifikan ini menimbulkan pertanyaan. Lantas, apa yang membuat air mineral merk Equil dijual dengan harga yang begitu mahal?
Dilansir SketsaNusantara.id dari website resminya, Equil Mineral Water memiliki beberapa keistimewaan dibandingkan air mineral lainnya.
Equil berasal dari sumber mata air alami di Sukabumi, Jawa Barat, yang terjaga kemurniannya. Tidak seperti air mineral biasa yang melewati proses penyaringan dan pemurnian buatan, Equil mengklaim airnya langsung diambil dari sumber tanpa tambahan zat kimia atau proses distilasi.
Hal ini membuat komposisi mineral dalam Equil tetap alami dan tidak berubah, memberikan rasa yang lebih murni serta manfaat kesehatan yang lebih baik.
Selain itu, salah satu faktor utama yang membuat Equil lebih mahal adalah penggunaan botol kaca berwarna hijau, berbeda dengan air minum biasa yang dikemas dalam botol plastik.
Penggunaan botol kaca warna hijau dapat membantu menjaga kualitas air, mencegah kontaminasi, serta mempertahankan kesegarannya lebih lama. Kemasan kaca juga lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik sekali pakai.
Tak hanya itu, Equil tidak diproduksi dalam jumlah besar seperti merek air mineral lainnya. Produksi yang lebih eksklusif ini membuat ketersediaannya di pasaran terbatas, sehingga harga jualnya lebih tinggi dibandingkan air mineral biasa.
Sejak awal, Equil diposisikan sebagai produk premium yang sering dikonsumsi oleh kalangan atas, yang sering disajikan dalam hotel-hotel bintang lima, bahkan untuk acara besar kenegaraan.
Citra eksklusif ini menjadikan Equil lebih dari sekadar air minum biasa, tetapi juga simbol status sosial bagi mereka yang mengonsumsinya.
Meski begitu, harga Equil yang terlalu mahal untuk sekedar suguhan air mineral menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Prabowo yang mengonsumsi air mineral mahal dinilai tak menunjukkan gaya hidup sederhana sebagai pemimpin negara.
Banyak yang menilai bahwa penggunaan air mineral seharusnya tetap terjangkau bagi semua kalangan, terutama dalam konteks kebijakan pemerintah yang sering menyerukan efisiensi anggaran hingga sektor lain harus terkena dampaknya termasuk pendidikan di Indonesia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!